Hujan, Menikmati Jajan Jadul Putu

Malang kembali diguyur hujan, Kamis (12/2/2026). Sore terdengar penjual putu lewat yang ditandai suara siulnya. Entah kenapa, kok pingin banget makan putu hangat dari penjual yang lewat. "Ma (Rachma, nama anak saya), tolong panggilkan bapak penjual putunya," kata saya pada si bungsu. Ia mengomentari kok tumben saya pingin jajan tradisional itu. Anak saya memanggil penjualnya dan saya mengambil piring di dapur.

"Satu porsi berapa, Pak?" tanya Rachma. Bapak penjual menjelaskan harganya Rp 12 ribu. Setelah itu saya menyerahkan piring. Tak berapa lama, terdengar suara siulnya yang menandakan bahwa jajan pesanan saya sudah selesai. Anak saya mengambilkan. Setelah itu, kami mencoba makan jajan itu. Penjual putu itu tiap sore selalu lewat di perumahan saya. Tapi saya memang tidak selalu beli karena terkait selera ingin dan tidak.

Jajan putunya berwarna hijau dan di bagian tengah ada gula merahnya. Saya biasanya minta taburan kelapanya disendirikan karena tidak suka ditaburkan diatas jajannya. Harga Rp 12 ribu itu terdiri dari 11 buah putu. "Bapak itu konsisten ya jual putunya. Rombongnya ya tetep," komentar anak saya. Seingat saya dulu naik sepeda kayuh. Tapi kemudian ada gerobaknya dengan sepeda motor. 

Di kawasan perumahan saya, masih ada penjual jajan-jajan/kue jadul di tengah maraknya kue kekinian. Di pasar juga masih ada penjual jajan pasar. Saya bersyukur sebagai generasi yang lahir tahun 70 an masih bisa menikmati sajian jadul hingga terkini. Hal ini karena masih diberi panjang usia sehingga bisa adaptasi dengan perkembangan zaman. Sylvianita Widyawati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Perajin Kroso, Pahlawan Bagi Petani Kelengkeng

Ke Makam Troloyo Mojokerto