Perajin Kroso, Pahlawan Bagi Petani Kelengkeng

Pembuatan awal blongsong/kroso

Sebagian besar warga Dusun Curah Ampel, Desa Ampeldento, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang menggeluti usaha pembuatan kroso/blongsong.

Kroso adalah semacam anyaman dari bambu yang digunakan untuk melindungi buah kelengkeng. Jika tidak dilindungi, maka pertumbuhan buah kelengkeng itu berpacu dengan waktu dengan codhot.

Binatang itu doyan sekali dengan buah-buah yang memiliki kemanisan. Jika buah itu sudah keduluan dimakan oleh binatang itu, maka petani kelengkeng juga tinggal gigit jari karena tidak ada buah yang bisa dipanen.

'Pahlawan' petani kelengkeng mungkin Ny Kasiani, Ia sudah puluhan tahun menggeluti pembuatan kerajinan kroso. ”Sebenarnya untuk mengisi waktu senggang setelah menjadi buruh tani,” cerita Ny Kasiani di rumahnya pekan lalu.

Katanya, dari hasil sebagai buruh tani per hari mendapat sekitar Rp 15.000-an. Sehingga sangat tidak cukup untuk biaya hidup. Sementara suaminya, adalah buruh bangunan yang jika ada pekerjaan bisa mendapatkan Rp 35.000/hari.

Saat mengerjakan kroso, sehari ia mampu menghasilkan 50 biji kroso. Pekerjaan itu ia lakukan setelah pulang dari sawah. Ketika ditemui, ia sedang menjemur pipihan bambu sudah diiris super tipis agar dari bambu itu bisa menghasilkan pipihan yang lebih banyak. Tujuan penjemuran itu agar pipihan bambu itu tidak didatangi jamur.

Setelah kering, barulah pekerjaan membuat kroso dilakukan. Beberapa pipihan bambu itu diletakkan di lantai dan mulai dijalin sampai kemudian dibucu (dijalin ke atas) sehingga bisa terbentuk seperti wadah. Setiap 100 biji, pedagang kroso memberi harga Rp 40.000. Sementara ia biasanya membeli batang bambu ukuran satu meter sekitar Rp 7.500.

”Ada pedagang bambu yang menjual ke ke kampung ini,” cerita Ny Kasiani. Menurutnya, harga Rp 40.000 per 100 biji sudah ada peningkatan.Pernah harga itu mencapai Rp 25.000-Rp 30.000 per 100 biji. Meski tidak selalu ada pedagang kroso yang datang tiap hari, namun warga selalu membuatnya setiap hari.

Sehingga ketika pedagang datang, maka mereka tinggal mengambilnya. ”Ini saya sudah membuat sebanyak 7.500 biji. Tapi yang sudah dipesan mencapai 1.000 biji,” tuturnya. Menurut warga asli dusun itu, kroso tidak dijual di pasar tradisional. Sasarannya adalah para pemilik/petani kelengkeng yang biasanya ada di Kecamatan Tumpang dan wilayah lainnya. 

Sehingga bisa dibilang perkembangan usaha kroso juga sangat tergantung pada pertumbuhan kelengkeng yang ada. ”Kelengkeng lokal  itu kadang berbuah dua tahun sekali. Kalau tidak ada yang berbuah, maka sepilah pembelian kroso,” urai Ny Muayah, perajin kroso yang lain. Ketika sebagian besar kelengkeng banyak yang berbuah, maka bergembiralah perajin kroso ini. Karena berarti banyak yang membeli kroso mereka. 
Hasil kroso masih ditumpuk menunggu pembeli
 Menurut Muayah, krosonya dijual per 100 biji antara Rp 40.000-Rp 50.000. Hasil kerajinannya sudah diambil sebanyak 500 biji. 

Karena tidak setiap hari ada kroso yang terjual, maka ia juga mengisi hari-harinya dengan kesibukan membuka warung. 

Ia sendiri biasanya membeli bambu panjang seharga Rp 15.000 yang dipotongnya sendiri dan bisa menghasilkan kroso 150 biji. ”Kalau bambunya tebal dan bisa mengiris dengan sangat tipis, hasilnya juga bisa lebih banyak. Bisa mengirit,” ujarnya. 

Meski dari pembuatan kroso lumayan, namun mereka tidak menggantungkan murni dari usaha itu karena tidak setiap hari ada penjualan.Sehingga perajin rata-rata memiliki pekerjaan lain. 

Apalagi tidak selalu blongsong buat kelengkeng lokal itu diperlukan. Belum lagi di tengah kekosongan produksi lokal, kelengkeng impor juga sudah menyerbu pasar dengan harga lebih murah. 

Buah kelengkeng impor itu otomatis tidak memerlukan blongsong karena masuk ke Indonesia sudah dalam bentuk buah jadi. sylvianita widyawati

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Kabar Ve AFI?

Liburan di Madura