Postingan

Ini Pastel Kesukaan Saya

Gambar
Saya suka sekali dengan snack pastel. Biasanya yang mengena pertama kali itu kulitnya. Kalau kulitnya cruncy, saya biasanya senang. Singkat cerita, saya mendapatkan pastel kesukaan saya di mall, tepatnya di MOG. Waktu itu ketemunya tidak sengaja. Padahal kalau dingat-ingat, kedai pastel itu sepertinya sudah lama ada. Suatu hari, saya di mal itu pingin nyamil. Lalu saya belok saja ke kedai itu. Entah enak atau tidak, saya coba satu. Saya lupa beli ukuran kecil atau besar. Untuk ukuran besar harganya Rp 12 ribu dengan aneka cita rasa. Awalnya saya suka yang reguler. Enak juga. Terus beli lagi pas ada sisa tinggal kare. Saya beli itu saja. Akhirnya yang paling sering saya beli rasa kare. Isinya ya potongan daging, wortel dll. Selain di MOG, di Matos juga ada. Pokoknya, kalau saya bosen snack, saya langsung beli pastel plus es teh black tea original di Mixue Rp 10 ribu. Itu menu standar daripada bingung.  Biasanya pastel dimasukkan dalam kantong kertas dan saya bawa ke temp...

Saya, Mrs Masker

Gambar
Saya memakai masker sejak masa covid 19, terutama jika sedang di luar rumah. Dari masker harga mahal sampai sekarang satu dus Rp 21 ribu. Sampai sekarang saya selalu menggunakan masker jika di luar rumah. Awalnya ya karena keadaan. Tapi sekarang rasanya masih perlu dinormalisasi oleh saya sendiri. Pertama, setelah pasca covid, saya jadi terbiasa. Dari pemakaian nasker itu, saya merasa lebih nyaman terutama di luar rumah. Sebab saya tidak tahan bau rokok. Dengan memakai masker, saya jadi ada "penahan" tidak terkena langsung. Tapi apa benar, perlu riset juga. Saya khawatir dengan asap rokok itu membuat saya sakit kepala. Hal ini karena ada penolakan dalam diri saya, lalu spaneng dan jadi sakit kepala. Ini mungkin lebih ke penolakan defensif mental. Jadinya begini. Selain itu, debu juga jadi alasan lain. Apalagi saya kerap memakai angkutan umum. Anak nomer kedua saya juga begitu. Keluar rumah, langsung maskeran karena bersepeda motor. Alasan kedua saya karena merasa nyaman dan t...

Percakapan Tentang Uban

Gambar
Saat di salon, sang pemotong rambut (A) bertanya pada saya (B). Ia tiba-tiba membahas uban. A: Untuk seusia ibu, harusnya sudah ada ubannya. Bagaimana dengan teman-teman ibu? B: Wah, saya gak tahu. Teman-teman pakai hijab. Uban saya ada kok. Kadang saya cabut yang pendek-pendek 1-2 cm A: Oh ya, ada  (rambut saya dicek). B: Tapi saya gak tahu yang di bagian belakang. Gak bisa ngecek saya A: Gak ada kok, Bu. B: Uban saya ada di bagian atas kepala. Ini (saya tunjukkan). Kadang di rambut samping. Pendek-pendek. A: Memang ibu kelihatan tidak pernah pakai cat rambut. Cat rambut itu biasanya habis dicat, malah cepat muncul ubannya. B: Saya ya pernah dikira pakai cat rambut. Padahal cara pakainya aja gak tahu, hehehe. Saya kalau gabut emang suka cabut uban pendek-pendek. Paling sering ngecek di dekat telinga. A: Oh gitu. Akhirnya pemotongan rambut selesai. Terasa segar. Tahun ini usia saya 56 tahun. Uban ya ada pasti di rambut saya. Tapi saya juga pernah tidak perhatian. Tahunya pas difoto...

Akhirnya Me Time...

Gambar
Akhirnya saya bisa me time, Senin (4/5/2026). Caranya, saya potong rambut dan creambath di sebuah salon di Matos. Awalnya maju mundur berangkat karena kadang mager tiba-tiba. Akhirnya si bungsu yang butuh potong rambut ikutan ke salon. Rambutnya sudah panjang dan terlihat sumpek (dari wajahnya), wkwkw. Selain itu, ia pemilih salon. Maunya ke salon A, tapi kalau Senin kan libur. Lalu bingung ke salon lain dan berhitung biaya. Tiba-tiba ngajak ke Matos. "Wis, aku melok di salon ibu ae," kata dia.  Saya yang awalnya malas-malasan, jadi berangkat. Rambut saya juga sudah sumpek. Agak panjang dikit sudah bikin gak enak. Belum lagi poninya mulai panjang. Akhirnya kita berangkat naik bus Transjatim dari Sawojajar ke Matos. Biayanya murmer Rp 10 ribu berdua dan sudah ber AC. Sampai lokasi langsung daftar dan ditangani. Selain potong rambut, saya juga creambath. Saya selalu suka sesi creambath di salon ini. Dari beberapa salon, saya sreg disini. Penanganan tidak buru-buru. ...

Capeknya...

Gambar
Foto/sylvianita widyawati Bersih-bersih rumah Menurutku, dua pekan ini rasanya capek banget. Mungkin karena pekerjaan di rumah selalu ada. Sebenarnya suka-suka saja. Tapi karena tidak ada bantuan dari sekitar, jadi aku kerjakan sendiri. Lama-lama badanku pegal juga. Aku merasa istirahat juga tidak tuntas. Ada aja yang dipikirkan. Jadi penat. Aku masih cari solusinya bagaimana mengurangi penat ini. Apalagi hampir tiga minggu terakhir, fokusku ke dua rumah. Rumahku dan ibu. Karena adik sedang keluar kota, aku jadi sering ke rumah ibu buat bersih-bersih. Termasuk mengecat pagar dll. Mungkin ini juga yang bikin capek. Pikiranku hanya sayang kalau rumah ibu terlihat tidak bersih. Untung dibantu keponakan dan anak-anak. Rumah tua ibu kembali ke warna putih. Sebenarnya pingin ngotak atik lainnya. Tapi tenagaku terbatas. Jadi yang terjangkau saja. Aku malah pingin buat kebun di lahan yang tersisa. Mungkin di pot-pot dengan tanaman kebutuhan sehari-hari. Setelah lahannya aku bersihk...

Teman Bertanya, Kegiatan Pensiunan Apa Sih?

Gambar
Pekan lalu, saya bertemu teman saya. Dia satu angkatan di SMA. Kami bertemu saat ada undangan kegiatan komite sekolah. Karena saya sedang tidak sibuk, saya mau datang. Apalagi dia juga mau datang. Saya kalau sendirian juga bakal ngah ngoh. Tidak semua saya kenali. Sebab selain alumni juga ada perwakilan orangtua/walimurid. Saat saya masih bekerja, ikut kegiatan seperti ini pasti terlewati karena kurang waktu luang.  Teman saya bertanya, apa sih kesibukan atau kegiatan saya selama pensiun. Bulan ini, saya sudah pensiun setahun dua bulan. Kegiatan saya seperti biasa sebagai IRT. "Hanya minus kegiatan tidak bekerja saja," ceritaku pada dia. Jawabanku tidak memuaskan dia. Padahal sudah saya jawab jujur lho. "Jadi IRT itu banyak kegiatannya," kataku. Sejak bangun tidur sampai mau tidur, ada saja yang bisa dikerjakan. "Jadi aku ya gak kangen juga bekerja di luar," jawabku.  Saya menjelaskan tidak lagi kangen kegiatan meliput sebagai jurnalis karena saya sudah ta...

Lebaran 2026 Tanpa Ibu, Begini Rasanya

Gambar
Tahun ini Lebaran tanpa ibu karena telah meninggal pada 13 Maret 2026 lalu. Maka agenda kita jadi berubah meski tetap berkumpul di rumah ibu buat ngobrol sambil makan siang, Sabtu (21/3/2026). Suasana rumah ibu jadi sunyi dan sekarang dihuni adik kedua. Lebaran tahun lalu, ibu masih ikut unjung-unjung meski hanya duduk di mobil. Lebaran ini, badan saya juga gak enak. Jadi saya memutuskan tidak sholat Idul Fitri di masjid dekat rumah sambil menemani anak saya yang sedang sakit demam. Sepertinya badan saya belum fit beneran. "Ya wis tunggu aja di rumah," kata Paksu. Rachma, anak saya sudah beberapa hari sakit demam. Setelah kedua anak saya berangkat ke masjid diikuti Paksu, saya membuat teh manis hangat agar badan saya enakan. Entah relasinya apa. Tapi teh hangat bikin saya nyaman.  Setelah itu mulai bikin nasi juga memanaskan sayur dan bikin lauk. Adik ipar saya juga sudah membuat bakso. Saya bikin sayur labu siam dan telur petis. Sisa nasi saya bikin nasi goreng dua porsi den...