Postingan

Kok Tiba-Tiba Jadi Kangen Mbahku Ya...

Gambar
Tiba-tiba kangen almarhumah mbahku. Namanya almarhumah Lilik Kasiani. Mbahku sosok pendiam tapi perhatian. Dia juga strong. Meninggal di usia lebih dari 100 tahun setelah dimensia. Saya menemukan ia meninggal di kamarnya, di rumah ibu saya di Sawojajar Malang saat tidur. Mbah baru saja makan dan ingin tidur. Lalu ibu dan adik saya olahraga jalan kaki. Saya di rumah sendirian. Ketika saya ke kamarnya, ia seperti tidur biasa tapi sudah tidah bernafas. Kagetlah saya.  Saya menunggu ibu pulang karena zaman itu belum ada telepon seluler. Singkat cerita, almarhumah ibu saya dan bapak saya setelah menikah tinggal di rumah mbah di kawasan Oro-Oro Dowo Malang. Di rumah itu juga ada budeku dan anaknya. Saat saya akan lulus SMP, ayah saya dimutasi ke kantor Surabaya. Ibu saya akhirnya juga ikut mutasi mengikuti suami. Dua adik, nomer 3 dan 4 yang masih SD pindah juga.  Setelah itu, adik nomer 2 juga pindah ke SMA swasta setelah kenaikkan kelas 2. Saya bertahan di Malang bersama mbah. Bud...

Membuat Sambungan Kain Perca Mengisi Hari

Gambar
Beberapa saat ini lagi senang bikin sambungan-sambungan kain perca. Rencana sih bikin taplak meja pengganti dan lainnya. Sempat beberapa saat mangkrak karena lagi malas jahit menjahit kini timbul semangat lagi selain kegiatan rutinitas. Biasanya saya terpicu dengan potongan-potongan kain kecil lalu menjadi besar dan lebar. Makin menarik motif kain percanya, biasanya saya makin kerasan bermain kain dengan jahitan tangan itu. Entahlah, saya agak malas memakai mesin jahit akhir-akhir ini. Tapi pasti suatu hari akan main mesin jahit lagi karena siklus saya pasti terulang. Ini sedang senang kembali main jahit tangan saja. Beberapa karya baju juga masih mandeg meski ada yang tinggal memperbaiki kerah, lengan dan lainnya. Anak saya juga selalu tanya ibu mau bikin apa sih jahit melulu. Saya jawab ada rencana ini itu. Mereka hanya bilang oo. Setelah menyelesaikan kesibukan reguler, saya pasti mengerjakan jahitan tangan memakai kain perca ini. Seperti "memanggil" saya untuk...

Ini Pastel Kesukaan Saya

Gambar
Saya suka sekali dengan snack pastel. Biasanya yang mengena pertama kali itu kulitnya. Kalau kulitnya cruncy, saya biasanya senang. Singkat cerita, saya mendapatkan pastel kesukaan saya di mall, tepatnya di MOG. Waktu itu ketemunya tidak sengaja. Padahal kalau dingat-ingat, kedai pastel itu sepertinya sudah lama ada. Suatu hari, saya di mal itu pingin nyamil. Lalu saya belok saja ke kedai itu. Entah enak atau tidak, saya coba satu. Saya lupa beli ukuran kecil atau besar. Untuk ukuran besar harganya Rp 12 ribu dengan aneka cita rasa. Awalnya saya suka yang reguler. Enak juga. Terus beli lagi pas ada sisa tinggal kare. Saya beli itu saja. Akhirnya yang paling sering saya beli rasa kare. Isinya ya potongan daging, wortel dll. Selain di MOG, di Matos juga ada. Pokoknya, kalau saya bosen snack, saya langsung beli pastel plus es teh black tea original di Mixue Rp 10 ribu. Itu menu standar daripada bingung.  Biasanya pastel dimasukkan dalam kantong kertas dan saya bawa ke temp...

Saya, Mrs Masker

Gambar
Saya memakai masker sejak masa covid 19, terutama jika sedang di luar rumah. Dari masker harga mahal sampai sekarang satu dus Rp 21 ribu. Sampai sekarang saya selalu menggunakan masker jika di luar rumah. Awalnya ya karena keadaan. Tapi sekarang rasanya masih perlu dinormalisasi oleh saya sendiri. Pertama, setelah pasca covid, saya jadi terbiasa. Dari pemakaian nasker itu, saya merasa lebih nyaman terutama di luar rumah. Sebab saya tidak tahan bau rokok. Dengan memakai masker, saya jadi ada "penahan" tidak terkena langsung. Tapi apa benar, perlu riset juga. Saya khawatir dengan asap rokok itu membuat saya sakit kepala. Hal ini karena ada penolakan dalam diri saya, lalu spaneng dan jadi sakit kepala. Ini mungkin lebih ke penolakan defensif mental. Jadinya begini. Selain itu, debu juga jadi alasan lain. Apalagi saya kerap memakai angkutan umum. Anak nomer kedua saya juga begitu. Keluar rumah, langsung maskeran karena bersepeda motor. Alasan kedua saya karena merasa nyaman dan t...

Percakapan Tentang Uban

Gambar
Saat di salon, sang pemotong rambut (A) bertanya pada saya (B). Ia tiba-tiba membahas uban. A: Untuk seusia ibu, harusnya sudah ada ubannya. Bagaimana dengan teman-teman ibu? B: Wah, saya gak tahu. Teman-teman pakai hijab. Uban saya ada kok. Kadang saya cabut yang pendek-pendek 1-2 cm A: Oh ya, ada  (rambut saya dicek). B: Tapi saya gak tahu yang di bagian belakang. Gak bisa ngecek saya A: Gak ada kok, Bu. B: Uban saya ada di bagian atas kepala. Ini (saya tunjukkan). Kadang di rambut samping. Pendek-pendek. A: Memang ibu kelihatan tidak pernah pakai cat rambut. Cat rambut itu biasanya habis dicat, malah cepat muncul ubannya. B: Saya ya pernah dikira pakai cat rambut. Padahal cara pakainya aja gak tahu, hehehe. Saya kalau gabut emang suka cabut uban pendek-pendek. Paling sering ngecek di dekat telinga. A: Oh gitu. Akhirnya pemotongan rambut selesai. Terasa segar. Tahun ini usia saya 56 tahun. Uban ya ada pasti di rambut saya. Tapi saya juga pernah tidak perhatian. Tahunya pas difoto...

Akhirnya Me Time...

Gambar
Akhirnya saya bisa me time, Senin (4/5/2026). Caranya, saya potong rambut dan creambath di sebuah salon di Matos. Awalnya maju mundur berangkat karena kadang mager tiba-tiba. Akhirnya si bungsu yang butuh potong rambut ikutan ke salon. Rambutnya sudah panjang dan terlihat sumpek (dari wajahnya), wkwkw. Selain itu, ia pemilih salon. Maunya ke salon A, tapi kalau Senin kan libur. Lalu bingung ke salon lain dan berhitung biaya. Tiba-tiba ngajak ke Matos. "Wis, aku melok di salon ibu ae," kata dia.  Saya yang awalnya malas-malasan, jadi berangkat. Rambut saya juga sudah sumpek. Agak panjang dikit sudah bikin gak enak. Belum lagi poninya mulai panjang. Akhirnya kita berangkat naik bus Transjatim dari Sawojajar ke Matos. Biayanya murmer Rp 10 ribu berdua dan sudah ber AC. Sampai lokasi langsung daftar dan ditangani. Selain potong rambut, saya juga creambath. Saya selalu suka sesi creambath di salon ini. Dari beberapa salon, saya sreg disini. Penanganan tidak buru-buru. ...

Capeknya...

Gambar
Foto/sylvianita widyawati Bersih-bersih rumah Menurutku, dua pekan ini rasanya capek banget. Mungkin karena pekerjaan di rumah selalu ada. Sebenarnya suka-suka saja. Tapi karena tidak ada bantuan dari sekitar, jadi aku kerjakan sendiri. Lama-lama badanku pegal juga. Aku merasa istirahat juga tidak tuntas. Ada aja yang dipikirkan. Jadi penat. Aku masih cari solusinya bagaimana mengurangi penat ini. Apalagi hampir tiga minggu terakhir, fokusku ke dua rumah. Rumahku dan ibu. Karena adik sedang keluar kota, aku jadi sering ke rumah ibu buat bersih-bersih. Termasuk mengecat pagar dll. Mungkin ini juga yang bikin capek. Pikiranku hanya sayang kalau rumah ibu terlihat tidak bersih. Untung dibantu keponakan dan anak-anak. Rumah tua ibu kembali ke warna putih. Sebenarnya pingin ngotak atik lainnya. Tapi tenagaku terbatas. Jadi yang terjangkau saja. Aku malah pingin buat kebun di lahan yang tersisa. Mungkin di pot-pot dengan tanaman kebutuhan sehari-hari. Setelah lahannya aku bersihk...