Seminggu di RS Nunggu Ibu Sakit
foto/sylvianita widyawati
Hari Terakhir di Rumah Sakit
Kesehatan ibu saya sempat menurun karena jadi kurang suka makan. Matanya seperti kosong. Akhirnya pada Sabtu (14/2/2026), kami membawanya ke RS di Malang. Ini adalah RS kerjasama yankes Ibu. Selama tujuh hari ibu saya di RS. Selama ini, ibu lebih banyak di tempat tidur karena kakinya sudah lemah. Jadi agak susah membawanya naik mobil. Akhirnya perlak (Bahasa Jawa) atau alas plastiknya kami manfaatkan buat evakuasi dengan dibopong berempat.
Yaitu saya, anak saya dan dua adik saya. Petugas keamanan RS sigap membantu membawa ibu dengan brankar di IGD ketika saya utarakan kesulitan ibu tidak bisa mobilisasi. Kami ditanyai keluhannya apa, sakit apa dan riwayat sakitnya. Kami hanya menjawab ibu melemah karena enggan makan. Segera setelah itu ditangani. Cukup lama kami menunggu karena perlu diagnosis sakitnya apa sampai kemudian dapat kabar harus dirawat inap di RS. Rasanya lega.
Tidak salah kami membawa ke RS. Tapi perkembangan dua hari awal memang masih lesu. Tapi berikutnya membaik sampai kemudian bisa pulang pada Jumat (20/2/2026). Selama menunggu ibu di RS, rasanya nano-nano. Senang karena saya tidak bingung lagi soal waktu karena saya sudah pensiun. Jadi ya bisa menunggu di RS bergantian sama anak dan keponakan.
Menunggu orang sakit memang melelahkan. Untung di kamar itu, fasilitasnya buat satu orang dan ada sofa. Tapi kalau ada dua orang penunggu, maka gantian tidurnya. Kadang saya di lantai dengan alas selimut tebal. Kadang juga di sofa. Saya ada kesempatan gantian jaga, saya pulang ke rumah. Badan rasanya capek semua. Belum lagi melihat cucian menumpuk. Jadi, waktu di rumah, saya maksimalkan buat mencuci dan mejemur. Hari ini sudah saya setrika.
Biasanya dalam kondisi tertentu (kecapekan), saya bawa cucian ke laundry langganan. Tapi karena pengeluaran banyak, saya kerjakan sendiri dulu. Kegiatan saya di RS, lebih banyak di kamar. Paling rempong ya memberi makan ibu karena harus beberapa kali makan. Dia tidak bisa langsung makan, tapi sedikit demi sedikit. Jatah makan pagi bisa sampai siang dan belum habis.
Lalu datang jatah snack, makan siang dan malam. Waktunya tak terkejar habis. Jadi yang mau dimakan random. Kalau buah bisa habis tapi dengan durasi panjang. Lauk yang disediakan RS enak-enak. Tapi ibu makannya dikit. Jadi gak pernah habis. Yang menyentuh adalah selalu ada buah buat penunggu (keluarga). Pernah pisang dan semangka. Oh ya, ibu makannya bubur beras.
Jika ibu tidur, saya juga ikutan tidur buat stamina. Biasanya saya sholat di masjid RS. Karena kamar ibu di lantai 3, saya lebih senang naik turun tangga. Sebab menunggu lift kelamaan. Apalagi jika posisi lift naik dan saya ingin turun. Secara umum, di sekitar RS juga banyak yang jualan makanan dengan harga terjangkau. Jadi enak jika perlu makanan. Karena masih di RS, saya menjalani puasa selama dua hari disana. Sylvianita Widyawati
Komentar
Posting Komentar