Ibuku Meninggal Dunia, 13 Maret 2026
Ibuku, Niek Anah,83, meninggal dunia pada 13 Maret 2026 pukul 13.30 WIB di ICU RSI Aisyiah Malang. Ia hanya disana sekitar 2,5 jam. Saat saya mengurus surat dan obat di lantai 1, anak saya menelpon dari ICU jika ibu sudah tiada. Ia menangis. "Mbah meninggal, Bu," katanya sambil menangis. Mata saya sembab menahan luka. "Ibu..," kataku. Saya hanya bisa mengucapkan itu. Wajah ibu saya lihat tenang seperti tidur.
Banyak orang berkomentar ibu meninggal dalam waktu istimewa. Saat hari Jumat di bulan Ramadhan. Ibu dimakamkan di makam Gading Kota Malang pukul 16.30 WIB. Lebih lambat dari rencana pukul 16.00 WIB. Perjuangannya sudah melemah melawan masa kritis tiga hari terakhir. Saya hanya bisa mendoakan ibu mendapat jalan terbaik.
Saya ingat waktu Kamis (12/2/2026) saat membacakan doa-doa di kamar 205, saya menangis. Suara saya bergetar. Ibu di tempat tidurnya hanya seperti orang mengorok. Tensi tubuh dan gula terus turun. Lalu dipush lagi. Saya memandang sebagai upaya. Tapi kondisinya sudah melemah. Tak ada perjuangannya untuk bisa kembali sehat. Tangannya bengkak karena sudah tak kuat dengan jarus infus.
Akhirnya dicarikan lagi jalan dekat lehernya untuk jalan infus juga makannya. Tapi tubuhnya tak bisa menyerah. Makanan di lambungnya menghitam saat dikuras selama dua kali. Ibu sudah menyerah. Upaya-upaya dokter untuk membuat ibu sehat kembali sudah tak direspons tubuhnya. Pada Kamis malam itu, hidupku seperti jumpalitan. Selain menahan lelah, juga menyaksikan perjuangan ibu di kamar sendirian.
Baru saat itu saya merasa kesunyian, rasa takut. Kamar terasa sepi dan hanya terdengar suara ngorok ibu. Saya merasa bersama dengan orang yang tidak bernyawa sendirian. Padahal biasanya, saya menjaga sendiri tidak pernah ada rasa seperti itu. "Ya Allah, saya ikhlaskan ibu daripada ia sakit seperti itu," kataku saat berdoa. Ada rasa bersalah mendoakan itu. Tapi kalau ibu dibawa pulang, saya juga tidak tahu kondisinya. Yang jelas akan makin parah.
Sejak empat hari terakhir, saya menunggu ibu di kamar ruang inapnya dari dua pekan disana karena bergantian menjaga. Tiga hari terakhirnya, semua dokter intinya menyatakan ibu sudah lemah. Pada Kamis malam itu sampai didatangkan dokter jaga dari IGD. Lalu saya dipanggil lagi dengan dokter soal kondisi ibu yang harus dibawa ke ICU. Saya memang menolak karena biar saya bisa menjaga dekat. Tapi pada Jumat siang, ibu makin lemah dan dibawa ke ICU lantai 3.
Saya ingat, ketika ibu dibawa ke ICU, saya kasihan padanya karena sendirian di ruang ber AC dingin sekali itu. Saya ingin memotretnya tapi ada larangan. Saya pandangi dari jauh dan lalu keluar mengurus surat dan obat. Hari itu saya merasa super woman sekali. Dari lantai 3 ke lantai 1 wira-wira. Sebelum itu mengatur semua isi di kamar untuk dibawa pulang oleh adik. Sebab kamar harus bersih maksimal setelah Ashar karena sudah ada yang inden.
Sejak dipastikan ke ICU, saya sudah mengemas barang-barang. Bahkan saya sudah survei tempat ruang tunggu ICU, dimana letak toilet dan apa yang akan saya bawa jika saya menjaga ibu. Saya pesimis adik-adik mau bergantian menjaga. Saya bilang pada anak saya, biar ibu saja yang menjaga Mbah. Saya sudah bawa bantal leher, jaket, tas jinjing berbagai kebutuhan pribadi serta kue dan nasi ayam dari logistik sahur yang belum saya makan pada Jumat dini hari. Karena kelelahan, saya bangun jam 04.00 WIB saat adik saya yang dari Jakarta datang.
Saya buru-buru makan kue dan minum. Lalu menunggu sholat subuh dan tidur di lantai beralas selimut. Adik saya minta tidur di sofa karena usai perjalanan 12 jam dengan kereta api. Bersyukur sekali adik mau menukar tiket kereta api yang harusnya pada Jumat malam jadi Kamis sore langsung ke Malang karena ibu kritis. Ia memanggil bu..ibu. Bu Wahyu..Bu Wahyu. Mata ibu terpejam. Adik sudah memutuskan di Malang beberapa hari untuk menjaga ibu.
Anak-anak ibu sudah berkumpul bersama dan bisa menunggui ibu hingga akhir hayatnya. Kembali cerita di ICU, perawat minta saya dan anak saya keluar ruangan setelah ibu meninggal. Kami ndoprok di depan pintu ICU dengan linangan air mata dan merasa lelah. Anak saya lain datang dengan menangis karena mbahnya meninggal. Ia mendapat izin dari tempat magangnya pulang lebih awal dari diberi tambahan libur sehari.
"Bu, saya mengucapkan bela sungkawa ya atas meninggalnya ibu," kata pegawai RS. Saya menjawab, iya Pak. Kemudian juga datang pegawai perempuan lainnya yang mengurus ibu. Saya menanyakan tentang penyucian jenasah dan ambulans. Saya ingin ibu pulang dengan kondisi bersih dan suci. Ternyata di RS itu ada layanan itu. Saya dan anak bungsu saya ikut memandikan ibu yang wajahnya bersinar, bersih dan seperti tidur dalam kondisi senang. Petugas memang membolehkan anggota keluarga ikut memandikan.
Saat mengeramasi rambut ibu, saya pandangi wajahnya. "Ma, Mbah kayak lagi tidur biasa ya," kataku. Petugas membantu membilas rambut ibu. Saya mengikuti semua proses dalam pemandian jenazah. Setelah dikafani, jenazah segera dibawa ke masjid RS untuk disholatkan. Banyak yang ikut menyolati karena usai sholat Ashar, masih banyak jamaah. Begitu diumumkan, malah makin banyak yang ikut sholat.
Alhamdullilah ya, Allah. Saya juga ikut sholat jenazah itu. Setelah itu dipersiapkan pemulangan ibu ke rumah. Jalanan padat sekali. Meski mobil ambulans sudah memperdengarkan sirene, tapi apa daya jalan padat. Tiba-tiba ada pengendara motor yang membantu membuka jalan. Ya Allah, terima kasih pengendara. Sehingga jalan buat ibu sangat lancar. Sampai di rumah, ibu disemayamkan sebentar lalu kami berangkat ke makam Gading.
Selamat jalan ibuku sayang. Ibu mendidik saya dengan keras. Alhamdullilah, saya jadi kuat mengurus semuanya. Maaf ya Bu, kalau saya kurang mengurus ibu dengan baik. Tapi untung saya sudah pensiun dan bisa menemani ibu sampai detik terakhir. Saya diberi kesempatan berbakti di akhir hayat ibu. Saya memang capek, tapi saya senang bisa sampai di akhir hidup ibu bisa membantu ibu. Sylvianita Widyawati
Komentar
Posting Komentar