Lebaran 2026 Tanpa Ibu, Begini Rasanya

Tahun ini Lebaran tanpa ibu karena telah meninggal pada 13 Maret 2026 lalu. Maka agenda kita jadi berubah meski tetap berkumpul di rumah ibu buat ngobrol sambil makan siang, Sabtu (21/3/2026). Suasana rumah ibu jadi sunyi dan sekarang dihuni adik kedua. Lebaran tahun lalu, ibu masih ikut unjung-unjung meski hanya duduk di mobil.

Lebaran ini, badan saya juga gak enak. Jadi saya memutuskan tidak sholat Idul Fitri di masjid dekat rumah sambil menemani anak saya yang sedang sakit demam. Sepertinya badan saya belum fit beneran. "Ya wis tunggu aja di rumah," kata Paksu. Rachma, anak saya sudah beberapa hari sakit demam. Setelah kedua anak saya berangkat ke masjid diikuti Paksu, saya membuat teh manis hangat agar badan saya enakan. Entah relasinya apa. Tapi teh hangat bikin saya nyaman. 

Setelah itu mulai bikin nasi juga memanaskan sayur dan bikin lauk. Adik ipar saya juga sudah membuat bakso. Saya bikin sayur labu siam dan telur petis. Sisa nasi saya bikin nasi goreng dua porsi dengan lauk telur orak arik. Setelah sholat Ied, keluarga adik bungsu saya datang dan langsung tertarik sarapan pagi lontong sayur dan telur petis. Saya hanya memiliki tiga buah lontong yang saya beli di penjual bakso. Hal ini karena saya sudah kesiangan ke pasar pada Kamis (19/3/2026).

Ddan penjual lontong memutuskan tidak menerima pesanan karena pada Jumat (20/3/2026) karena Muhammadiyah sudah Lebaran lebih awal. Usai sarapan, kami ke makam ibu dan ke rumah bude di OOD. Lalu cari burger di JL Ijen dan balik ke rumah ibu buat makan siang. Adik ketiga saya dan keluarganya sudah tiba di rumah ibu. Jadi kami bergegas pulang. Setelah bersalaman saling memaafkan, kami makan siang dengan menu yang ada. Yaitu bakso, sayur labu siam dan telur petis.

"Aku makan bakso ae yo, Mbak. Soale tadi di rumah ibuku ya bikin sayur labu dan telur petis," kata Dita, adik iparku, istri adikku ketiga. Kalau adikku memang sudah pingin makan lontong sayur dan telur petis. Kami berbincang lama dan kemudian adik ipar dari Surabaya itu pamit pulang sekaligus mampir ke makam ibu. Adik bungsuku juga pamit pulang untuk persiapan pulang ke Jombang mengantarkan istri dan anaknya.

Saya juga berpamitan pulang karena Rachma demam lagi. Begitu ruwetnya pikiran saya saat itu. Mengurus ini itu, anak sakit dll. Saya jalani satu-satu biar otak saya tidak kaget. Sampai rumah ya ditangani satu-satu. Termasuk mengantar anak bungsu ke klinik dekat rumah. Karena libur, BPJS tidak berlaku dan baru bisa dipakai pada 25 Maret nanti. THR Rachma sendiri dari ayahnya dibuat berobat dan habis Rp 200 ribu untuk biaya dokter dan obat. Ternyata obatnya cespleng. Rachma membaik. Alhmadullilah.

Hari kedua Lebaran saya main ke rumah keluarga almarhum kakak ibu di Bandulan. Pulangnya kelaparan. Pingin lontong kupang di Jl Raya Langsep, mobilnya kadung di kanan jalan, wkwkw. Paksu sendiri tidak mau diajak ke mall. Saya sudah kelaparan nih. "Makan di rumah saja," teriak Paksu. Lho mare ngene. Niat healing malah pusing. Akhirnya sampai rumah langsung pesan nasi padang lewat online. Habis itu saya tidur kelelahan. 

Liburan Lebaran, kesibukan ya tetap. Masak, bersih-bersih rumah, mencuci, wkwk. Bosen tapi bagaimana pagi. Bahkan rencana mau membawa baju-baju kotoran ke laundry saja akhirnya menguap gak jadi. Alasannya ya karena laundry langganan masih tutup. Akhirnya dicicil mencucinya tiap hari. Dari dua hari hasil cucian kering, saya biasanya menyetrika agak tak numpuk. Sylvianita Widyawati
Foto/sylvianita widyawati
Suasana Lebaran 2026 tanpa ibu. Kami berziarah ke makam ibu bapak di TPU Gading, Sabtu (21/3/2026).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Perajin Kroso, Pahlawan Bagi Petani Kelengkeng