Leader Logistik Ramadhan Tidak Boleh "Mleyot"
Tercatat sudah empat kali ini selama puasa Ramadhan 2026, saya "mleyot" mempersiapkan logistik puasa. Pernah kesiangan bangun jam 05.00 WIB. Padahal saya sudah mempersiapkan masakan buat sahur. Kejadiannya pekan lalu. "Kita makan sop aja, Bu, buat sahurnya," kata anak saya. Karena sudah sepakat, malamnya saya memasak. Begitu juga nasinya. Harapannya, pas sahur tinggal memanaskan saja.
Harapan tinggal harapan. Pas bangun, saya tengok jam dinding. "Ha? Jam 5?" seruku kaget. Aku ke tiga kamar anakku. "Waduh, kesiangan sahurnya. Gimana ini?" kata saya pada mereka. Mereka menjawab ya sudah, Bu. "Untung aku semalam sudah makan mie dan membaca niat berpuasa sebelum tidur," kata Jasmine, anak kedua saya. Dua anak saya lainnya juga sudah pasrah, wkwkw. Begitulah.
Kalau jadi IRT (Ibu Rumah Tangga) dimana jadi leader logistik selama Ramadhan, maka tidak boleh "mleyot". Dalam hal ini harus selalu bersemangat dan siaga. Tapi apa daya, kondisi badan dan situasi tidak bisa dikendalikan. Namanya capek tidak bisa dicegah. Korban leader tidak bisa bangun sesuai jadwal adalah seluruh anggota keluarga. Apalagi jika alarm HP mereka juga tidak terdengar telinga mereka. Jadi wassalam.
Kejadian bangun sahur mendekati imsak terjadi ketiga kalinya pada Rabu (4/3/2026). Saya bangun terkaget-kaget. HP saya mati karena baterai habis. Saya berjalan ke arah dapur. Sudah jam 03.45 WIB. Saya bergegas membangunkan anak-anak. "Bangun-bangun. Sudah mau imsak ini," kataku. Tidak ada pemanasan nasi dan lauk. Kami mengambil apa yang ada dalam kondisi dingin. Ada nasi, tahu bakso dan siomai. Kami makan dalam diam karena berhitung waktu.
Tak lupa minum air putih biar tidak dehidrasi. Ya Allah, mleyot lagi saya. Sambil menunggu adzan Subuh, saya mengisi baterai HP. Sebelum itu juga dua kali bangun mepet imsak pada Ramadhan tahun ini meski masih ada waktu 30 menit. Masih aman tapi saya grudak gruduk mempersiapkan. Kompor dua tungku saya pakai semua. Akhirnya bereslah meski mata saya masih sepet. Anak-anak makan lahap.
Saya berbagi kisah kesiangan sahur atau mepet jam imsak pada teman saya. Mereka juga mengalami semua. Jika diingat-ingat, memang selama sebulan masa berpuasa selama bertahun-tahun selalu ada masa seperti itu. Entah bangun kesiangan, mepet waktu imsak hingga gas elpiji habis. Pernah kejadian gas elpiji habis. Selain tidak punya stok cadangan elpiji, saya juga tidak sempat masak. Begitu dicetek, tidak menyala kompornya.
Akhirnya saya makan sisa takjil di lemari es. Untungnya saat itu saya puasa sendirian. Anak-anak belum puasa saat itu. Dari pengalaman kehabisan gas itulah, sampai sekarang saya mengharuskan memiliki stok gas. Jadi saya punya dua tabung gas elpiji. Jika satu habis, saya pakai stokan. Lalu saya beli lagi yang lainnya buat cadangan. Ini bermanfaat menjaga keberlangsungan memasak di rumah.
Tapi masalahnya saya tidak bisa memasang sendiri karena takut. Jadi masih mengandalkan anak-anak atau suami. Kalau kejadiannya saat tidak ada anggota keluarga lain, saya pesan gas baru dan minta dipasangkan oleh pegawai pengantar pembelian di toko terdekat. Sylvianita Widyawati
Komentar
Posting Komentar