Teman Bertanya, Kegiatan Pensiunan Apa Sih?
Pekan lalu, saya bertemu teman saya. Dia satu angkatan di SMA. Kami bertemu saat ada undangan kegiatan komite sekolah. Karena saya sedang tidak sibuk, saya mau datang. Apalagi dia juga mau datang. Saya kalau sendirian juga bakal ngah ngoh. Tidak semua saya kenali. Sebab selain alumni juga ada perwakilan orangtua/walimurid. Saat saya masih bekerja, ikut kegiatan seperti ini pasti terlewati karena kurang waktu luang.
Teman saya bertanya, apa sih kesibukan atau kegiatan saya selama pensiun. Bulan ini, saya sudah pensiun setahun dua bulan. Kegiatan saya seperti biasa sebagai IRT. "Hanya minus kegiatan tidak bekerja saja," ceritaku pada dia. Jawabanku tidak memuaskan dia. Padahal sudah saya jawab jujur lho. "Jadi IRT itu banyak kegiatannya," kataku. Sejak bangun tidur sampai mau tidur, ada saja yang bisa dikerjakan. "Jadi aku ya gak kangen juga bekerja di luar," jawabku.
Saya menjelaskan tidak lagi kangen kegiatan meliput sebagai jurnalis karena saya sudah tahu harus pensiun di usia 55 tahun. Kalau kangen menulis, ya saya menulis saja apa yang ingin saya tulis. Saya sudah bikin blog buat media saya. Nah, sejak Februari 2026 lalu, saya baru gabung nulis di Kompasiana. Masih jadi penulis debutan dari hasil poin yang saya dapatkan. Andai saja saya ikut sejak bertahun-tahun yang lalu, pasti saya sudah memiliki poin banyak ya, wkwk.
Tapi saya dulu ya mungkin sudah lelah menulis buat media saya dan blog saya. Selain itu jadi IRT yang cukup berat. Apalagi dengan tiga anak yang sedang tumbuh. Saya tak ingin menyesali. Dijalani saja. Saya cerita kedia dalam memasuki masa pensiun, saya harus melewati berbagai fase sampai akhirnya saya pilih jalan ini. Kadang dipandang orang kok menganggur di usia sekarang 56 tahun. Tapi di usia sekarang apa ada pekerjaan buat orangtua.
Saya sering juga skrol-skrol media sosial buat mencari loker. Tapi terhambat usia. Jadi saya lakukan saja apa yang bisa saya kerjakan. Misalkan pada Februari-Maret 2026 lalu, berkat pensiun, saya jadi bisa mengurus ibu saya yang sakit di RS hingga meninggal dunia. Alhamdullilah, bisa mengantarkan ibu. "Iku bekal sampean gae ke surga, mbak," ucap house keeping di RS tempat ibu dirawat. Saya hanya bilang Aamiin.
Masa-masa berat dilalui ibu. Dan saya bisa menemaninya. Bahkan saat ulangtahun saya pada 18 Februari 2026, saya bersama ibu di RS. Saat saat menjaga ibu, anak-anak memberi kue tart kecil buat kejutan. Katanya, kasihan ibu tidak ada yang merayakan ultah ke 56, wkwk. Video itu masih ada. Tangan ibu berusaha meraih kue tart itu. Ternyata itu ultah saya terakhir ditemani ibu saya. Saat itu kondisinya agak membaik.
Tapi kemudian pada Maret 2026, masuk lagi dan meninggal pada 13 Maret 2026. Jadi, ibu masuk RS pertama pada 14 Februari 2026. Ibu dibawa ke IGD RS karena sulit makan. Tepatnya malas makan. Ternyata sebulan kemudian meninggal dunia. Tidak ada yang tahu takdir Tuhan. Tapi saya, juga adik-adik, insyaallah ikhlas melepas ibu di usia 83 tahun. Kembali ke masa pensiun, saya memang harus melewati berbagai fase.
1. Fase Awal:
Timbul rasa senang karena tidak bekerja. Rasanya seperti sedang ambil cuti. Kegiatan saya masih banyak. Tapi lebih sering main. Apalagi anak saya yang bungsu masih PKL di Sidoarjo. Saya masih wira-wiri Malang-Sidoarjo. Selama di rumah Sidoarjo juga membuat aktifitas hobi. Saat itu, saya masih kerap mengikuti berita-berita di online.
2. Fase kedua:
Karena sudah bekerja puluhan tahun ini media, otak saya terasa penuh data dan ide-ide. Untuk mengurangi "beban" itu, saya rilis perlahan-lahan. Ada yang saya buat tulisan, video dll. Saya juga mulai melirik media sosial. Sumpah, selama bekerja, saya jarang banget melihat medsos karena sudah tak punya waktu. Awalnya, saya melihat-lihat TikTok dan lainnya. Akhirnya bikin kecanduan. Kecanduannya itu bikin saya dapat insight lain.
Misal ada kejadian, saya juga dapat info sekalian dari masyarakat/netizen. Jadi informasi yang saya dapatkan lebih komprehensif. Begitu juga isi-isi media sosial lainnya. Lalu, saya mengurangi menbaca media mainstreem pada pagi, siang hari. Saya memberi waktu pada malam hari agar otak saya balancing antara media mainstreem dengan media sosial. Dengan modal ini, pikiran saya lebih ringan.
3. Fase Ketiga
Saya lebih menikmati masa pensiun dengan bepergian karena kebetulan ada beberapa kesempatan. Misalkan pergi ke daerah lain. Dari hal itu, juga membuat saya lebih rileks. Saya tetap bisa menulis dan membuat video dari hasil bepergian. Saya juga bisa fokus pada pekerjaan rumah sebagai IRT. Tapi jika saya bosan, saya juga bisa jalan-jalan di sekitar Malang. Di fase ini, saya merasa sudah balancing dan memastikan tidak ada post power syndrome.
4.Fase keempat
Karena sudah bisa menikmati masa pensiun, saya sudah santai menjalani hidup saya. Prinsipnya dijalani saja. Memang ada masa sulit saya terutama mengatur jam tidur. Kadang ada saja kegiatan di rumah saya kerjakan sampai malam hari. Akhirnya saya sulit bangun tidur pagi. Maka saya coba matikan HP jam 22.00 WIB, agar saya tidak otak-otak HP. Pernah berhasil di tahap ini. Saya bisa bangun pagi agar tidak telat sholat subuh. Setelah itu mengurus anak-anak. Karena ada yang sekolah, kuliah atau kerja pagi.
Tapi pernah ada masa, dimana saya tidur lagi setelah anak-anak berangkat. Jam 09.00-10.00 WIB, saya baru bangun. Mata saya sudah tak lelah lagi. Kadang bangun pagi biasa dan mengerjakan tugas-tugas IRT. Saya baru mandi siang hari dan biasanya usai sholat dhuhur, saya ketiduran. Lalu bangun lagi menjelang anak-anak kembali ke rumah. Setelah itu ya beraktifitas biasa. Kegiatan saya lainnya adalah mengerjakan hobi menjahit. Jika sudah asik, bisa tahan berjam-jam.
Oh ya, hampir semua kegiatan di rumah, saya suka mengerjakan. Baik memasak, membersihkan rumah, cuci-cuci dll, saya oke. Memang berat tapi kayak jadi balancing saya. Jadi tidak ada kegiatan menganggur. Tapi kalau mau menganggur, ya gak papa. Karena kendali di tangan kita sendiri. Sylvianita WidyawatiBerziarah di makam ibu
Komentar
Posting Komentar