Akhirnya Bisa Main ke Monas Panas-Panas
Hanya ada waktu sekitar empat jam di Jakarta sebelum pulang kembali ke Malang, Minggu (4/10/2026). Saya ajak anak sulung ke Monumen Nasional (Monas). Kami naik Gocar kesana. Minggu itu cuaca panas. Tapi nggak papa deh. Mumpung Monas masih buka. Pada Agustus 2026 lalu, kami ke Monas. Ternyata kalau hari Senin tutup. Makanya saat Minggu masih di Jakarta, kami kesana. Mobil kami turun di depan pintu masuk Monas depan balaikota. Lalu jalan kaki mengikuti orang-orang.
Mampir ke Monas sebelum kembali ke Malang, Minggu (4/10/2026). Foto/sylvianita widyawati
Terus terang agak gabut juga kesana. Ternyata jalan yang kita telusuri tidak salah kok. Oh ya, di sekitar Monas ada tempat buat nyari makan dan oleh-oleh. Sudah terlokalisir. Saya lihat, untuk kedai-kedai makannya juga sudah memberikan daftar menu dan harganya. Jadi gak mungkin kegetok harga mahal. Salut. Disana ada seafood dll. Nah, di lokasi oleh, terlihat penjual daster, tas dan lainnya. Tas yang dijual ada logo Monas. Harga tas Rp 35 ribu. Kalau beli tiga Rp 100 ribu.
Setelah itu, kami jalan ke arah Monas. "Akhirnya kesini...," kataku pada si sulung sambil ketawa. "Kita kok tiba-tiba di Monas ya," jawab anakku. Wkwkw, emang hidup serandom itu. Pas Agustus lalu sudah tidak ada impian lagi ke Monas. Eh, kok pas Oktober 2026 ke Jakarta, tiba-tiba pingin ke Monas. Selain gratis, juga impian setiap warga luar Jakarta. Kayak sah gitu sudah di Jakarta dan main ke Monas. Ya kan? Habis itu kita naik bus pariwisata gratis dari Monas ke Masjid Istiqlal. Dekat sih. Tapi di bus AC-nya top. Dingin.
Sejatinya naik bus ini salah naik. Saya kira bus yang ke arah kota melihat gedung pencakar langit. BW4 atau apa gitu. Salahnya, saya gak ngecek. Pas mau jalan, diumumkan jika bus ini ke Masjid Istiqlal. Saya lalu bertanya pada penumpang depan saya. "Nanti, kalau balik ke Monas lagi bagaimana, Bu?" tanya saya. Dia menjawab, nanti naik bus ini lagi. Oke-oke. Begitu turun, saya dan anak duduk santai dulu di dekat halte. Kemudian saya tanya lagi ke bapak sebelah saya. "Kalau ke Monas, naik apa?" tanya saya.
Si bapak bilang, naik bus merah (pariwisata) lagi aja. Saya ajak lagi anak saya naik bus itu dan ngetap kartu meski gratis. Mungkin ini buat data penumpang. Sampai di Monas kembali, kami langsung naik Gocar buat ke mal Grand Indonesia. Anak saya ngajak ke tempat lain. Tapi saya bilang ke Grand Indonesia aja karena saya agak hafal karena pernah kesana Agustus lalu. "Nyari makan siang aja yok. Kalau mall-nya sih ya kayak TP (Tunjungan Plaza)," kata saya. Kami nyaris hanya di lantai satu dan basement saja buat mengejar waktu.
Setelah ke lantau dasar, kami ke supermarket Food Hall. Lalu ke Kafe Betawi. Kami pesan lontong sayur, laksa, air mineral dan teh manis hangat serta kudapan ringan. Setelah usai makan, kami pulang naik taksi lagi. Setelah itu bersiap ke Stasiun Pasar Senen naik KA Majapahit. Suhu kereta lumayan dingin. 24 Derajat. Anak saya malah merasa kurang dingin. Sedang saya sudah cukuplah. Nggak enak kalau kedinginan. Buktinya saya masih bisa tidur nyenyak. Bangun pagi, ternyata sudah di Blitar. Mata sudah melek lagi nih. Akhirnya sampai Malang juga. Masih mampu juga bertahan 12 jam di kereta api, hehehe. Next kemana lagi? Saya mengincar main ke Purwokerto.
Komentar
Posting Komentar