Saya, Mrs Masker
Saya memakai masker sejak masa covid 19, terutama jika sedang di luar rumah. Dari masker harga mahal sampai sekarang satu dus Rp 21 ribu. Sampai sekarang saya selalu menggunakan masker jika di luar rumah. Awalnya ya karena keadaan. Tapi sekarang rasanya masih perlu dinormalisasi oleh saya sendiri. Pertama, setelah pasca covid, saya jadi terbiasa. Dari pemakaian nasker itu, saya merasa lebih nyaman terutama di luar rumah.
Sebab saya tidak tahan bau rokok. Dengan memakai masker, saya jadi ada "penahan" tidak terkena langsung. Tapi apa benar, perlu riset juga. Saya khawatir dengan asap rokok itu membuat saya sakit kepala. Hal ini karena ada penolakan dalam diri saya, lalu spaneng dan jadi sakit kepala. Ini mungkin lebih ke penolakan defensif mental. Jadinya begini. Selain itu, debu juga jadi alasan lain. Apalagi saya kerap memakai angkutan umum.
Anak nomer kedua saya juga begitu. Keluar rumah, langsung maskeran karena bersepeda motor. Alasan kedua saya karena merasa nyaman dan tidak banyak dikenali orang. Tapi karena saya selalu bermasker, jadi dikenal orang juga dengan "khasnya". Jika sedang makan dan minum, ya saya lepas. Memakai masker saat bepergian jauh juga sangat enak. Pas ketiduran, tidak diketahui kan apa sedang "ndoweh" atau lainnya, hehehe.
Jika bepergian, saya selalu membawa stok masker. Kalau lupa ya beli di toko Indoxxxx. Karena itu, saya selalu beli masker satu kotak di apotek. Jika kerap keluar rumah, maka stok cepat menipis. Jika kadang-kadang pergi, ya aman bisa lebih sebulan. Dari beberapa model masker, yang pas buat saya adalah masker tali telinga karena sesuai kondisi saya tidak berhijab. Menurut anak saya, itu model orangtua. Tapi saya juga tidak cocok dengan model masker yang biasa dibeli anak saya. Kembali ke selera karena beda generasi.
Bagi saya ya memilih masker yang pas cocok buat saya pribadi. Dulu saat bekerja, teman-teman yang tiba-tiba butuh masker pasti minta ke saya. Karena mereka tahu saya suka membawa stok masker. Jika berkegiatan di luar, setidaknya harus ada tiga sampai empat stok masker. Kan kalau kelamaan juga mengandung bau, wkwkwk. Begitulah cerita masker saya. Dalam kondisi saya ini, apalagi musim kemarau, masker tetap cocok dipakai karena polusi, debu di jalan selain alasan pribadi. Sylvianita Widyawati
Komentar
Posting Komentar