Pertama Kali di Stasiun Bekasi, Begini Rasanya

Sejujurnya, saya tidak sempat riset bagaimana Stasiun Bekasi ketika melakukan perjalanan pertama kali kesana pada 22 Agustus 2026 lalu. Saya bertiga bersama pak suami dan si bungsu naik KA Majapahit. Anak bude menjemput kami di Stasiun Bekasi saat sampai disana. "Nanti naik eskalator dulu, baru turun lagi. Saya di tempat parkiran bawah," ujar Mas Yanto, anak bude lewat telepon. Begitu sampai, kami turun kereta dan naik ke lantai atas. Dalam hati saya, oh begini situasi di Stasiun Bekasi. Kami sempat menunggu di ruang tunggu atas karena pak suami ke toilet. 

Suasana ruang tunggu saat itu sangat ramai. "Perutku mules," kata dia. Sambil menunggu, saya melihat kesibukan di ruang tunggu, mendengar pemberangkatan kereta api dari suara petugas. Sibuk juga stasiun ini. Setelah itu, kami turun dan bertemu dengan anak bude di parkiran. Di dalam mobil, saya mengamati suasana Bekasi. Tujuan kami adalah rumah makan buat sarapan pagi. Secara umum, saya suka berada di daerah lain dan berusaha merasakan vibes-nya. Sekilas saya lihat di Bekasi ada nuansa metronya terutama di bagian jalan utama. Tapi kemudian seperti berada di daerah-daerah lain umumnya. 

Pulang ke Malang, kami naik kereta api lagi dari Stasiun Bekasi juga. Kali ini berangkat sore. Jam 16.00 WIB, kami bersiap ke arah kota dari rumah anak bude yang berada di Kabupaten Bogor namun dekat Bekasi. Agar tidak buru-buru, kami harus berangkat lebih awal. Jalan krusial yang dilewati adalah ketika melintasi jalan dimana ada lintasan kereta. Kayak cepet-cepetan melintasnya. Tapi kendaraan padat. "Harus cepat karena banyak kereta yang melewati ini," kata anak bude. Ia juga menjelaskan jika di jalur inilah sempat viral karena ada kecelakaan laka kereta api. 

Akhirnya, kami sampai di parkiran stasiun. Kami naik ruang tunggu atas. Kami sudah agak familiar dengan suasana di stasiun. Setelah check in, kami duduk manis di ruang tunggu. Masih ada waktu satu jam buat menunggu KA Majapahit datang. Petugas mengumumkan berbagai informasi terkait kedatangan kereta. Kami lalu pindah tempat duduk dekat tangga turun ke peron. Ternyata, jika belum waktunya datang kereta api tujuan, penumpang dilarang turun. "Naik kereta api apa? Belum datang. Duduk saja dulu," jelas petugas sekuriti ketika kami akan turun kebawah.
Tangga menuju peron Stasiun Bekasi. Foto/sylvianita widyawati

Kami mengiyakan. Benar saja. Setelah kereta akan datang, kami dan penumpang lainnya dibolehkan turun. Sambil menunggu, saya mengamati KRL yang melintas stasiun. Banyak sekali. Sambil menunggu, saya melayangkan pikiran di Stasiun Malang. Dimana sambil menunggu kereta masih bisa jajan di outlet yang ada. "Untung ya sudah bawa makanan kecil. Jadi gak bingung buat camilan di kereta," kataku pada pak suami. Tapi saat di kereta api malah nggak kepikiran lagi soal makanan ringan. Kami langsung pesan makan malam karena kelaparan. Niat saya makan di kursi penumpang saja. Eh, pak suami malah mengajak ke restorasi.

Akhirnya kita makan di restoran kereta. Awalnya asik. Lama-lama kedinginan. Saya izin ke gerbong. Habis kedinginan, masih dingin lagi di gerbong. Saya lihat suhunya 24 derajat. Saya berdoa agar dikuatkan dalam kedinginan ini sampai di Malang. Duh, 12 jam di kereta rasanya itu..wow. Tapi saya masih bersyukur tidak menggigil. Tapi kedinginan. Saya merindukan sinar matahari. Sampai di Malang sekitar jam 07.00 WIB an. Lega sekali. Selamat kembali di Malang. Sylvianita Widyawati


Tampak depan Stasiun Bekasi pada 25 Agustus 2026. Foto/sylvianita widyawati


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Belum Sosialisasi E KTP, Pelaksanaan Molor

Yuk...Jalan-Jalan ke Arjuna Geopark di Perkebunan Wonosari Kabupaten Malang