Kok Tiba-Tiba Jadi Kangen Mbahku Ya...
Tiba-tiba kangen almarhumah mbahku. Namanya almarhumah Lilik Kasiani. Mbahku sosok pendiam tapi perhatian. Dia juga strong. Meninggal di usia lebih dari 100 tahun setelah dimensia. Saya menemukan ia meninggal di kamarnya, di rumah ibu saya di Sawojajar Malang saat tidur. Mbah baru saja makan dan ingin tidur. Lalu ibu dan adik saya olahraga jalan kaki. Saya di rumah sendirian. Ketika saya ke kamarnya, ia seperti tidur biasa tapi sudah tidah bernafas. Kagetlah saya.
Saya menunggu ibu pulang karena zaman itu belum ada telepon seluler. Singkat cerita, almarhumah ibu saya dan bapak saya setelah menikah tinggal di rumah mbah di kawasan Oro-Oro Dowo Malang. Di rumah itu juga ada budeku dan anaknya. Saat saya akan lulus SMP, ayah saya dimutasi ke kantor Surabaya. Ibu saya akhirnya juga ikut mutasi mengikuti suami. Dua adik, nomer 3 dan 4 yang masih SD pindah juga.
Setelah itu, adik nomer 2 juga pindah ke SMA swasta setelah kenaikkan kelas 2. Saya bertahan di Malang bersama mbah. Bude dan anaknya juga sudah pindah karena menikah dan tinggal di perumahan di Sawojajar yang waktu itu baru buka. Jadi rumah mbah saya sepi. Tinggal berdua sama saya. Ibu saya sampai berlangganan katering ke keluarga lain yang masih tetangga dekat rumah untuk makan sehari-hari. Saya ingat menunya antara lain ada sate. Jadi fokus saya di rumah itu hanya bersih-bersih rumah mbah dan sekolah.
Setiap akhir pekan pulang sekolah, mbah selalu saya ajak ke rumah dinas bapak saya di Surabaya. Kami naik becak dari OOD ke terminal lalu naik bus ke Surabaya. Mbah saya ngikut saja dan tidak pernah mengeluh. Padahal ya lumayan juga perjalanan Malang ke Surabaya lalu masih ganti angkot. Dari terminal angkot masih jalan kaki ke perumahan. Tapi mbah sepertinya senang. Untuk usia lanjut, masih terlihat tahes. Nah, teman-teman saya kalau main ke rumah, mbah juga selalu ikut nimbrung.
Tapi nimbrungnya ya duduk saja. Bukan ikut ngobrol. Tapi anehnya dia juga hafal teman-teman saya. Oh ya, ruang tamu di rumah mbah juga terang banget. Kalau tidak ada tamu, ruang tamunya pasti gelap. Hanya nyala lampu di ruang tengah yang bersinar. Di ruang tengah itu diisi ruang meja makan, lemari dan lainnya. Lalu ada di tiga kamar. Setelah saya agak besar, ruang tengah dikurangi karena saya mendapat kamar baru. Bahasa Jawanya disinggat pakai kayu triplek. Disana ada dipan dan meja belajar.
Saya kurang ingat, apa ada lemari baju. Yang jelas, di dinding kamar ada puisi WS Rendra yang saya dapat dari bonus majalah remaja. Setelah saya lulus SMA, saya ikut pindah ke Surabaya buat kuliah. Mbah ikut serta juga. Makanya rumah mbah kosong. Jadi di rumah dinas bapak itu sangat ramai karena anak ibu saya empat. Tambah ayah ibu dua orang plus mbah. Ada tujuh orang. Tapi kalau sudah berangkat pagi semua, rumah juga sepi. Bapak dan ibu berangkat jam 06.00 WIB. Adik-adik sekolah pagi juga.
Yang menemani saya di rumah ya mbah. Rumah dinas bapak luas sekali. Luasnya 400 M2. Saya biasanya bersih-bersih rumah jam 07.00 WIB setelah semua penghuni pergi. Pembersihan di dalam dan luar rumah butuh satu jam karena rumah dinasnya luas.
Kuliah saya sore hari. Jadi saya juga banyak waktu bersama mbah. Mbah kadang juga ke kamar saya meski cuma duduk saja. Saya membaca buku-buku kuliah biasanya usai bersih-bersih rumah. Setelah belajar, saya tidur siang.
Sekitar jam 14.30 WIB, saya mandi. Jam 15.00 WIB saya berangkat kuliah naik angkot. Kuliah saya mulai jam 16.00 WIB sampai 20.00 WIB. Jadi saya sampai rumah sekitar jam 21.00 WIB kalau lancar. Saat semua pergi, mbah di rumah sendirian. Biasanya saya minta pintu-pintu dikunci. Kadang mbah nunggu di kamar saya. Eh, adik-adik pulang sekolah siang. Bapak pulang kerja sore. Kalau ibu saya, kadang masuk pagi, kadang masuk siang. Pintu pagar tidak ada kuncinya. Tapi kalau ada orang masuk terdengar.
Di Surabaya itulah, saya baru mengenal kucing. Awalnya ya kucing datang, lalu hamil dan ada anak-anaknya. Mbah biasanya memberi makan kucing berisi nasi dan pindang. Saat jam makan, mbah pasti membunyikan piring dan kucing-kucing itu datang. Kucing-kucing itu kadang masuk rumah. Tapi kalau malam, sudah berada di luar rumah. Tidak boleh masuk. Mereka di halaman rumah yang luas.
Mbah juga punya uang yang disimpan di BH-nya. Biasanya kita kadang juga minta buat beli jajan. Mbah tidak pelit. Dia sering ngasih karena ia juga dapat uang dari bapak. Pernah kita minta uang buat beli soda gembira dan diminum bersama. Senang mengingatnya. Kata mbah, bapak saya tidak pelit karena ia selalu memberi di luar pengetahuan ibu. Makam mbah-mbah saya semua ada TPU Gading Malang bersama dengan almarhum ibu dan bapak saya. Sylvianita Widyawati
Foto/sylvianita widyawati
Makam mbah-mbah saya di Malang
Komentar
Posting Komentar