Menginap Di Hotel Kokoon Surabaya

Tahu nama Hotel Kokoon Surabaya lewat aplikasi Traveloka pekan lalu. Gara-gara tergoda dengan hotelnya. Masih baru, ada kolam renang dan terkesan antik. Dan pastinya ramah kantong. Per kamar dapat Rp 336.000/net plus sarapan.

Karena sudah meninggalkan Surabaya sejak 2004, saya tidak pernah melihat Jl Slompretan, tempat hotel ini ada. Saat sampai Rabu malam (26/12/2018), Surabaya habis hujan. Mobil rombongan kami melewati jalan sepi di areal perdagangan.

"Bener gak sih ada di sini?" batin saya. Akhirnya sampai diujung jalan dan masuk ke area drop in. Sedang kendaraan usai check in harus parkir di belakang hotel lewat Jl Bongkaran. Kami pesan dua kamar meski pisah lantai.

Pertama datang terkesan dengan lobi dan area restoran. Ada beberapa benda kuno namun dikombinasi dengan mebeler baru namun linier. Di area ini memang bangunan lama yang dipertahankan. Namun untuk ke area kamar hotel benar-benar bangunan baru.

Saya dapat kamar di lantai 5. Adik saya di lantai 3. Hebohnya si kecil Fahri, keponakan. Dia sudah ingin berenang sebab kamarnya menghadap view kolam renang. Padahal sudah malam sekali. Setelah masuk kamar, anak-anak sibuk sana sini. Ke lantai 3, ke lantai 5. Saya sudah kelelahan. Tapi juga kelaparan.

Saya putuskan beli makanan lewat go food saja daripada keluar hotel. Saya pesan empat porsi dan dimakan bersama. Setelah itu, saya tidur lebih awal dibanding lainnya. Wih..rasanya penat dan membayangkan indahnya hari saya karena besok sudah cuti.

Ibu saya cerita, jika saat tidur saya ngorok keras. "Arek iki kuesel kok sampai ngorok," cerita ibu saya. Saya bilang memang lelah banget beberapa hari sebelumnya. Makanya penat. Paling berat ya mengurus rumah tangga.

Esok paginya, saya juga pesan go food lagi berupa empat porsi nasi gudeg. Ternyata enak banget menunya. Jam 08.00 WIB saya pesan lewat aplikasi. Total habis Rp 72.000. Saya kurang Rp 1000. Tapi oleh driver dibebaskan.

"Ibu adalah penglaris saya di pagi ini," komentar pak driver saat saya jemput di taman samping hotel. Saya bilang terima kasih. Kenapa saya tidak sarapan di hotel? Per kamar dapat jatah dua orang. Anak saya tiga.

Satu orang dipatok Rp 80.000. Anak-anak Rp 40.000. Saya putuskan, anak-anak makan di restoran. Saya makan go food di kamar dengan ibu saya. "Gudeg e suroboyo enak," kata ibu saya. Bukannya pelit. Ibu saya kemana-mana harus naik kursi roda.

Daripada naik turun ke restoran, lebih enak makan gudeg di kamar sambil nonton TV. Mantul..mantap betul. Setelah kami usai sarapan, anak-anak datang ke kamar. Sebentar lagi akan berenang setelah jeda makan.

Sisa waktu saya pakai buat melihat suasana hotel. Saat menunggu makanan di teras hotel, saya menengok Jl Slompretan sisi kanan. Ternyata ada kelenteng.

Sedang dari atas lantai 5, saya bisa melihat sisi JL Bongkaran. Karena masih pagi, ada beberapa tukang becak duduk dan di dekatnya ada dua orang tidur. Terima kasih Hotel Kokoon karena telah meminjamkan kursi roda buat ibu saya untuk naik turun kamar ke lobi. Sylvianita Widyawati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini