Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2011

Limbah Napi Jadi Biogas

Limbah para narapidana dimanfaatkan menjadi energi sebagai biogas. Hal itu telah dilakukan di LP Teluk Dalam, Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan jumlah napi yang besar, masalah limbah yang dihasilkan dari para napi tentu menimbulkan masalah tersendiri. “LP itu kapasitasnya hanya untuk 500 orang, tapi ternyata terisi sebanyak 1.500 napi. Sehingga ‘tabungannya’ sangat banyak,” kata Gusti Muhammad Hatta, Menteri Lingkungan Hidup ketika menghadiri kegiatan raker Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPP) di Aula BAU UMM, Sabtu (21/5). Untuk mengatasi limbah manusia itu, akhirnya kementrian membantu sehingga di LP itu ada IPAL biodigister yang berfungsi untuk mengolah air limbah/kotoran manusia yang telah difungsikan sejak Maret 2011 lalu. Kapasitasnya IPAL-nya untuk 500 orang. Dari limbah yang dihasilkanoleh 500 orang itu, menghasilkan gas metan sebanyak 4,5 meter kubik atau setara 3,5 kg gas elpiji. Dengan adanya pengolahan itu, maka LP-pun mendapat gas gratis setiap harinya. “Tapi kalau

Partai Demokrat Merasa Dikhianati

Gambar
Bupati Malang sidak office block sebelum hadiri interpelasi Rotasi ulang pada alat kelengkapan dewan yang dilaksanakan pada Rabu (11/5) lalu menyisakan rasa kecewa pada Fraksi Partai Demokrat (FPD). Sebab anggota FPD ternyata ‘dihabisi’ di komisi dan badan atau tidak memiliki jabatan. Satu jabatan yang tersisa hanya diberikan kepada Enik Finawati, Ketua Fraksi Partai Demokrat yang diberi jabatan Ketua BK (Badan Kehormatan) DPRD Kabupaten Malang. Meski Hari Sasongko, Ketua DPRD Kabupaten Malang membantah perubahan ini ada kaitan dengan bargaining politik, tapi hasilnya justru nyata terlihat. Sebab para anggota dewan dari partai pengusung interpelasi justru banyak yang ‘naik’. PKB dalam rotasi di komisi-komisi mendapat banyak tempat terhormat setelah sebelumnya hanya menjadi anggota. “Ini rotasi biasa karena sudah berlangsung selama dua tahun. Politik itu bukan matematika, tapi ilmu sosial yang bisa berkembang apa saja,” tandas Hari. Suparman, Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat

Nunggu 4 Jam, Interpelasi Batal. Hmmmmm

Gambar
Para pejabat Pemkab Malang yang menunggu interpelasi  Jadwal interpelasi yang mengundang Bupati Malang dan wakilnya, para pejabat Pemkab Malang serta Forum Koordinasi Muspida Kabupaten Malang oleh DPRD Kabupaten Malang menjadi berantakan, Rabu (11/6). Tujuan interpelasi itu adalah untuk meminta keterangan kepada Bupati Malang karena sempat terjadinya kekosongan kepemimpinan di Kabupaten Malang. Sebab Bupati Malang mengikuti kegiatan orientasi kepala daerah di Jakarta pada Maret lalu, sementara Wakil Bupati Malang justru menunaikan ibadah umroh. Undangan menghadiri acara itu direncanakan pukul 13.00 WIB. Tapi ternyata hingga pukul 16.00 WIB, rapat internal dewan yang membahas soal pergantian anggota pada alat kelengkapan dewan baru selesai. Sehingga Ketua DPRD Kabupaten Malang, Hari Sasongko memutuskan untuk menunda jadwal interpelasi. Begitu diumumkan ditunda, seluruh pejabat Pemkab Malang langsung meninggalkan gedung dewan setelah menunggu hampir empat jam. Sebab banyak pejabat

Musim Giling, Truk Tebu Penuhi Bahu Jalan

Gambar
Truk tebu yang antri giling di PG Kebon Agung di KecPakisaji   ruk-truk tebu memasuki musim giling tebu di PG Kebon Agung yang berada di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang mulai memenuhi bahu jalan. Sehingga lalu lintas menjadi penuh dan tak jarang menimbulkan kemacetan. Kapolsek Pakisaji, AKP Ni Nyoman Sri pun merasakan sendiri bagaimana kemacetan itu. Hal itu juga disampaikan kepada pimpinan PG Kebon Agung. “Apa tidak bisa diatasi?” tanya kapolsek disela kunjungan BLH dan DPRD Kabupaten Malang di PG Kebon Agung pada Kamis (12/4). Menurut pihak PG, pihaknya sudah berusaha mengatasi dengan cara makin memperbesar tempat parkir truk tebu tapi masih juga ada luberan di bahu jalan. “Kami sendiri sudah menyiapkan parkir untuk truk. Tapi di satu sisi, truk tebu terus datang karena petani ingin tebunya cepat digiling,” jelas Didit Taurisianto, Pimpinan PG Kebon Agung Pihaknya sendiri mengaku sudah tidak bisa mengatasi bahkan sudah berbicara pada petani tebu agar menyimpan dulu tebu it

Bandara Baru Terancam Tanpa Mebeler

Meski pemerintah pusat dan provisi Jawa Timur mengharapkan bahwa bandara semi sipil Abd Saleh bisa beroperasi sebelum Agustus 2011 nanti, namun belum disertai kelengkapan pendukungnya. Pengadaan mebeler untuk perkantoran dan terminal penumpang belum dipenuhi oleh Pemkot Malang dan Pemkot Batu hingga kini. “Dalam rapat revisi tentang hak dan kewajiban pemerintah Malang Raya pada 27 April lalu, Pemkot Malang dan Pemkot Batu belum bisa memenuhi kewajibannya untuk pengisian mebeler,” jelas Plt Kepala UPT Bandara Abd Saleh, Didik Sudiwinarto ketika dihubungi lewat ponselnya, Kamis (5/5). Andai bandara semi sipil itu tetap akan dioperasikan sebelum Agustus nanti, misalkan Juli 2011, maka bisa jadi terancam tanpa mebeler. “Masak nanti mbeber koran/tikar,” celetuknya. Sebab menurutnya, kedua Pemkot Malang dan Pemkot Batu baru bisa memenuhi kewajibannya itu setelah PAK (Perubahan Anggaran Keuangan) APBD yang biasanya diadakan justru di atas bulan Agustus. Padahal, lanjutnya, mebeler itu ju

Istri Jadi TKI, Suami Kawin Lagi

Hasil jerih payah Lianah (45) warga Desa Dadapan, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang dari bekerja sebagai TKW di Hongkong selama bertahun-tahun ternyata sia-sia. Kiriman uang yang tiap 2-3 bulan sekali dikirimkan untuk suaminya, Tukimun (46), agar dirupakan dalam bentuk rumah dll, ternyata tidak ada hasilnya. Malah ketika pulang ke Indonesia pada 2008, ia mendapati suaminya telah menikah lagi dengan status jejaka! Padahal Tukimun telah memiliki tiga anak dan empat cucu. Suaminya menikahi Enik (23) dan kini telah memiliki satu anak. Keluarga baru suaminya kini mendiami rumah megah yang dibangun dari hasil kerja keras Liana di Hongkong. Liana mengetahui kabar suaminya menikah lagi dengan status perjaka setelah anak pertamanya, Didik Sugiarto (27), menelponnya. Perayaan perkawinan suaminya dilangsungkan di rumah Desa Dadapan dan dimeriahkan dengan orkes. Atas kabar itu, Liana kemudian meminta izin pulang selama dua hari ke Indonesia dari Hongkong. Ternyata yang diceritakan anaknya

Nelayan Sendangbiru

Gambar
Pembawa jasa ikan dari nelayan Sendangbiru   Para nelayan di Pantai Sendangbiru, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang sudah bisa melaut sejak Februari lalu, namun hasil yang diperoleh masih belum maksimal. Hal ini karena cuaca yang masih belum menentu. “Bahkan menurut BMKG, hingga bulan Juni, kondisinya masih seperti ini,” jelas Umar Hasan, Ketua Kelompok Nelayan Rukun Jaya Sendangbiru, Senin (2/4/2011). Ia mencontohkan pernah ada nelayan yang mencari ikan selama seminggu, hanya mendapat delapan ekor ikan tuna. Ada juga yang nelayan yang bisa mendapat 4-7 kuintal/hari. Hasil ikan nelayan Sendangbiru Sebab biasanya sekali melaut, nelayan mendapat tangkapan ikan sebanyak 8 ton. “Sekarang yang banyak ditangkap adalah baby tuna,” ujarnya. Diperkirakan nanti puncak musim ikan terjadi pada Juni hingga September nanti. Para nelayan untuk menenuhi kebutuhan pekerjannya, nelayan sudah menanggung hutan per kapal yang berisi 5-7 ABP sekitar Rp 50 juta-Rp 60 juta/kapal. Untuk itu,

Nelayan Tamban Syukuran

Gambar
Suasana Pantai Tamban dan  ikan yang didapat Agar para nelayan mendapat banyak tangkapan ikan saat bekerja, nelayan Pantai Tamban, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang menggelar selamatan nelayan setiap tahunnya. Dalam mencari ikan, nelayan dengan cara memancing atau menjaring. “Jumlah ikannya sudah mulai banyak meski sekarang masih ada yang kecil-kecil,” jelas Parno, salah satu nelayan, Sabtu (30/4/2011). Dibandingkan dengan acara petik laut yang biasanya diadakan oleh para nelayan di Pantai Sendangbiru, selamatan warga nelayan ini lebih sederhana. Hasil ikan dan jenis makanan lainnya disajikan bersama untuk dinikmati warga yang datang serta tamu-tamu. Menurut Parno, karena cuaca kadang tidak menentu, hasil yang diharapkan oleh nelayan kadang masih kurang. “Biasanya, kalau sudah diadakan selamatan, biasanya ikan tangkapan sering dapat banyak. Selain itu, tujuannya biar selamat ketika bekerja,” cerita Parno yang tengah duduk-duduk di pantai. Nelayan la

Rawan Tsunami, Warga Tamban Minta Direlokasi

Gambar
Rumah warga dekat bibir Pantai Tamban Baru kali ini aku bisa melihat Pantai Tamban. Sebelumnya paling bertelepon dengan kadesnya menanyakan soal ikan, cuaca, atau banjir yang kerap melanda kawasan pemukiman nelayan yang ada di Pantai Tamban. Jauh juga lokasinya. Untuk aku diajak rombongan Bu Atik, Kadis Kelautan dan Perikanan. Kebetulan Sabtu,30 April 2011 itu ada acara di sana. Sekalian main, sekalian liputan. Akhirnya kudapatkan cerita ini dari cerita kades (yang kini telah mantan) dan Bupati Malang. Sebanyak 80 KK warga Dusun Tamban,  Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang yang berhadapan langsung dengan Pantai Tamban mendesak untuk direlokasi. Sebab kawasan itu merupakan daerah rawan tsunami. “Warga mendiami kawasan ini sejak 1960-an. Lahan ini yang didiami warga memang merupakan lahan milik Perhutani,” jelas Wikanto,  Kades Tambakrejo ditemui usai kegiatan selamatan nelayan Tamban, Sabtu (30/4). Ketika awal dulu, kawasan itu masih beru