Musim Giling, Truk Tebu Penuhi Bahu Jalan


Truk tebu yang antri giling di PG Kebon Agung di KecPakisaji
  ruk-truk tebu memasuki musim giling tebu di PG Kebon Agung yang berada di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang mulai memenuhi bahu jalan. Sehingga lalu lintas menjadi penuh dan tak jarang menimbulkan kemacetan. Kapolsek Pakisaji, AKP Ni Nyoman Sri pun merasakan sendiri bagaimana kemacetan itu. Hal itu juga disampaikan kepada pimpinan PG Kebon Agung. “Apa tidak bisa diatasi?” tanya kapolsek disela kunjungan BLH dan DPRD Kabupaten Malang di PG Kebon Agung pada Kamis (12/4).
Menurut pihak PG, pihaknya sudah berusaha mengatasi dengan cara makin memperbesar tempat parkir truk tebu tapi masih juga ada luberan di bahu jalan.
“Kami sendiri sudah menyiapkan parkir untuk truk. Tapi di satu sisi, truk tebu terus datang karena petani ingin tebunya cepat digiling,” jelas Didit Taurisianto, Pimpinan PG Kebon Agung Pihaknya sendiri mengaku sudah tidak bisa mengatasi bahkan sudah berbicara pada petani tebu agar menyimpan dulu tebu itu di rumahnya sampai giliran gilingnya tiba. Tapi karena sudah terlanjut ditebang oleh petaninya, maka  Karena itu, lanjutnya, tidak semua truk yang sudah parkir memegang SPTA (Surat Perintah Tebang Angkut).Pihaknya juga tidak bisa sembarangan mengeluarkan SPTA jika tidak sesuai dengan kapasitas gilingnya. Bahkan, karena animo menggilingkan tebu sangat tinggi, pihaknya merelakan enam rumah dinas PG dibongkar untuk tambahan tempat parkir dan dibuatkan rumah dinas baru meski masih di sekitar lokasi yang sama.
Dijelaskannya, jumlah truk tebu yang bisa parkir di halaman PG yang antre menggilingkan bisa mencapai 1.200 truk. Padahal pada 2009, jumlah truk yang parkir mencapai 900 truk. Katanya, setiap jam, 40 truk dipanggil untuk diambil tebunya dan siap digiling. Begitu setiap jam ada 40 truk yang dipanggil, jumlahnya bisa berkurang dan menjadi agak sepi. Dari data itu saja, bisa dilihat jika animo masyarakat bertanam tebu sangat tinggi di Kabupaten Malang. Awal giling pada tahun ini di PG Kebon Agung sejak 5 Mei lalu. Kapasitas giling di pabrik ini sebanyak 5.000 TCD dari rencana produksi 8500 TCD.
Sementara itu, terkait soal pencemaran limbah cair, PG mengakuinya. Hal ini karena masa giling yang masih berusia seminggu sehingga mesin-mesinnya belum semuanya berjalan baik. Begitu juga mesin juga cooling tower/pendingin yang berjumlah enam unit pada waktu itu belum berjalan semua. Sehingga limbah yang keluar ada uap panasnya. “Tapi sekarang sudah berjalan semua,” kata Didit. Jawaban itu terkait adanya limbah cair yang dikeluhkan warga sekitar pabrik. Pabrik sendiri juga sudah memiliki pembuangan limbah di dalam pabrik. Ketika ada keluhan itu, pihaknya langsung memperbaiki sistemnya.  vie    

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini