Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Maaf, Liburan Di Rumah Saja

Gambar
Biasanya, waktu berlibur saat Desember. Tahun 2020, tidak ada liburan. Kondisi masih belum membaik dari pandemi Covid-19. Masa lebih banyak di rumah karena pandemi itu adalah sebuah kegiatan yang harus disyukuri. Saya mikir positifnya. Pertama, saya jadi lebih dekat dengan anak-anak. Begitu sebaliknya. Biasanya pagi hari semua sudah berangkat sekolah, rumah sepi. Saya kemudian juga bergegas kerja. Sejak 10 bulan lalu, selalu ada yang jaga rumah selain belajar. Kalau saya pergi, saya juga tidak was-was karena ada mereka. Kedua, acara-acara juga berkurang banyak dan diganti virtual, seperti lewat Zoom. Jadi bisa dilakukan di rumah. Bagi saya ini juga efisien karena tidak lagi mengeluarkan biaya transportasi. Instansi demi prokes juga pasti lebih aman jika tidak banyak bertemu orang.  Ketiga, dengan kondisi sekarang maka harus lebih panjang ide agar bertahan. Keempat, saya juga harus menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Misalkan jika ada tugas membantu berita iklan, saya hanya diberi lin

Selamat Tinggal 2020, 2021 Datang dan Masih Pandemi Covid-19

Gambar
Hari ini, Kamis 31 Desember 2020. Dan selamat datang 2021. Alhamdullilah masih diberi sehat dan bertahan. Semoga semuanya juga begitu dalam kondisi harus "berteman" dengan pandemi Covid 19. Hari ini saya merasa dibawa ke setback perjalanan 2020. Januari-Februari seperti masih baik-baik saja meski sudah terdengar Covid dari negara lain. Sebagai reporter, saya juga kerap menanyakan dampaknya di Indonesia meski Corona saat itu masih di China.  Kadang suka males sendiri mengapa harus menanyakan itu. Ini karena khawatir nanti akhirnya virus itu menyeberang ke Indonesia. Saya ingat waktu itu menanyakan dampak ke pariwisata, pendidikan dll. Mahasiswa yang kadung liburan semester di Indonesia tidak bisa kembali ke China sementara dll. Yang mau berangkat apalagi. Maret 2020, anak saya pertama masih bisa melaksanakan ujian nasional yang ternyata terakhir kalinya.  Ujian kelar, siswa kelas 12 SMK sudah tidak ada kegiatan lagi. Tapi ternyata pandemi Covid ke Indon

PR Si Bungsu Buat Saya

Gambar
Dua anak saya, Jasmine dan Rachma memasuki jenjang pendidikan baru di tahun ajaran 2020/2021. Pandemi Covid-19, membuat seluruh siswa sekolah yang masih berada di daerah non zona hijau masih belum boleh sekolah. Sehingga mereka harus belajar dari rumah. Jasmine memilih SMK. Sekolahnya di Sidoarjo sesuai minatnya. Sedang kami berdomisili di Malang. Si bungsu Rachma masuk SMP di Malang. Banyak PR saya buat si bungsu. Jasmine sudah lebih dewasa dan mandiri. Saya lihat perkembangannya membanggakan. Minggu lalu baru melewati MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yang dimulai pukuk 08.00 WIB. Jam 07.00 WIB ia sudah mandi dan kemudian menyiapkan komputer dan seragamnya untuk bersiap online lewat zoom.  Monitor komputer saya tambahi webcam seharga Rp 250.000 agar bisa ikut kegiatan. Presensinya adalah foto dirinya memakai seragam SMP lengkap dengan sepatu hitamnya. Setelah itu ia mengikuti kegiatan diseling break istirahat siang. Ia juga dapat penugasan-penugasan. Sebelum masuk sekolah, ka

Siswa Manfaatkan Wifi Warkop Buat Kerjakan Tugas

Gambar
Kamis (16/7/2020) lalu saya bersama teman saya sekantor, fotografer Gogon ke Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang. Tujuannya ke rumah Udin atau nama lengkapnya M Syafruddin. Sehari sebelumnya, saya sudah janjian ke rumahnya untuk melihat siswa warga sekitar rumahnya yang memanfaatkan wifi di warkopnya untuk mengerjakan tugas sekolah.  Saya tahu kegiatan di rumahnya lewat status WA-nya. Saya pikir kok menarik ya. Saya lalu janjian bertemu. Belajar daring di saat pandemi Covid-19 memang tantangannya besar. Tak sekedar ada jaringan, tapi juga memperhatikan anak-anak akan tugas dan buku pelajarannya. Bagi guru-guru ini juga tidak mudah meski sudah mempersiapkan modulnya. Sebab pemahaman siswa, guru dan orangtua belum tentu sama.  Saat tugas di Kabupaten Malang dulu, saya beberapa kali datang ke Kecamatan Jabung bareng teman-teman. Tujuan saya kali ini ke Dusun Lemahbang, Desa Kemiri. Perjalanan saya mengingatkan liputan kemana saja saat itu. Flasb back. Seperti konflik lahan deng

Masker Oh Masker

Gambar
Di pendemi Covid-19 ini, kebutuhan akan masker jadi mutlak selain hand sanitizer. Dari kantor saya juga telah diberi bantuan masker beberapa lembar. Tapi karena sekali pakai, ya sudah habis stoknya. Mencari masker juga gak mudah dan mahal. Sejak dua pekan terakhir banyak beredar tawaran masker kain. Tadi pagi, suami saya juga posting soal masker dari kantornya lewat WAG keluarga. Ia mendapat beberapa masker medis juga ada masker kain yang bisa dicuci. Saya jadi terinspirasi juga membuatnha. Usai membuat berita, saya buka lemari pakaian mencari bahan kain yang ada. Anggap saja ini percobaan bikin masker sendiri. Bikinnya gampang-gampang susah, hahaha. Juga bikin capek karena dijahit tangan.  Setelah ketemu kainnya, baru bingung bikin talinya. Saya jadi ingat tali di masker medis yang tidak dipakai. Saya gunting  saja buat ujicoba masker kain. Hasilnya....?? Jasmine, anak saya bilang kok aneh ya, Bu. Ya..mungkin karena tidak terbiasa pakai kain.  Selama ini saya juga tidak pernah pakai m

Anak Sekolah Rindu Uang Saku

Gambar
Belajar dari rumah dalam waktu cukup lama, tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Pendemi Covid-19 cepat bergerak. Anak saya yang pertama masih sempat ikut ujian nasional SMK pada 16-19 Maret 2020. Sedang siswa jenjang paud sampai perguruan tinggi "diliburkan" namun melaksanakan pembelajaran daring. Berikutnya, ada kebijakan ujian nasional ditiadakan. Padahal saat itu akan unas SMA, SMP dan banyak daerah yang belum melaksanakan unas SMK. Begitu juga ujian sekolah tiada.  Sampai hari ini, Selasa (7/4/2020), jadwal kembali ke sekolah belum pasti. Tapi secara nasional darurat Covid-19 sampai 29 Mei 2020. Jadi,  waktunya masih panjang. Tidak bersekolah, membuat anak-anak kangen uang saku. Memang agak saya kurangi karena mereka di rumah dan segala kebutuhannya tercukupilah. Tapi ya gitu. Apa yang saya siapkan, sering cepat habis. Maksudnya diperbanyak agar bisa buat cadangan, malah cepat habis. Saya sendiri di lubuk hati, ya memaklumi. Apalagi mereka tidak pernah keluar rumah jika

Di Rumah Aja Gak Gabut

Gambar
Saat ini sudah pekan ketiga dimana segala kegiatan dilakukan di rumah karena antisipasi Covid-19. Yaitu bekerja, belajar dan beribadah di rumah. Saat ini mulai banyak status-status di media sosial soal gabut. Benarkah? Bagi yang sudah terbiasa merencanakan apa yang dikerjakan setiap harinya, pasti gak gabut.  "Benarkah di rumah itu gabut? Saya kok gak gabut. Ada aja yang saya kerjakan. Mana sempat ibu gabut," cerita saya ke Sasa, anak saya. Dia tertawa. "Iku lak ibu," jawabnya. Aku bilang, berada di rumah itu anugerah. Karena kampus dan sekolah "diliburkan" jangka waktu lama, dalam seminggu, saya tidak banyak liputan keluar rumah.  Saya banyak kerja dari rumah dengan memanfaatkan ponsel saya. Alhamdullilah, dalam kondisi saat ini selalu ada ide-ide yang menghidupkan pekerjaan saya. Kadang saya keluar runah, tapi tidak berani  berlama-lama. Di jalanan memang masih ada lalu lalang tapi tidak sebanyak biasa. Jalan-jalan padat agak lengang. Seperti