Menikmati Wisata Tanaka Waterfall, Serba Rp 5000
Pertama kalinya wisata ke Tanaka Waterfall di Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang pada pekan lalu. Saya memang sudah melihat postingan-postingan di medsos. Tapi belum mendapatkan bayangan seutuhnya. Saya kesana bareng paksu, anak dan keponakan. Jadi berempat berangkat naik mobil.
Kami memilih menggunakan maps setelah keluar dari jalibar Jl Ir Soekarno, Kepanjen, Kabupaten Malang. Saat di Talangagung, Kepanjen, anak saya mulai memakai maps. Ternyata disana juga sudah banyak papan penunjuk ke arah Tanaka. Kali ini, suami yang dibalik kemudi mobil karena jalan ke arah Wonosari perlu manufer yang lihat. Anak saya mengemudi sejak dari rumah hingga Kepanjen.
Karena berangkat pagi, kami bisa menikmati perjalanan ke desa yang berudara segar dan melihat keindahan Gunung Kawi. Setelah melewati berbagai belokan jalan, kami sampai di Desa Bangelan. Kendaraan roda empat atau lebih diarahkan ke parkiran di halaman balai dusun setempat. Disana ternyata juga disediakan ojek buat wisatawan. Tarifnya Rp 5000 sekali jalan menuju lokasi wisata. Pulangnya juga sama jika naik ojek. Di area lokasi sudah ada antrian ojek sesuai urutan datang.
Karena masih awam, kami memilih jalan kaki karena niatnya memang sambil olahraga. Dari lokasi parkir ke lokasi wisata perlu jalan kaki sekitar 200 meteran. Awalnya biasa karena jalan turun dan ada tangga. Pulangnya? Wow...ngos-ngosan saya. Maklum, dua pekan tidak olga. "Seperti kalau naik gunung ya begini," ujar paksu. Saya jalan tapi sering berhenti, wkwkwk. Mengkis-mengkis, bahasa Jawanya. Saya akhirnya sampai ke parkiran mobil sendiri.
Anak saya, paksu dan keponakan malah mampir di warung beli minum dan jajanan. Kalau saya lihat kendaraan di parkiran, ternyata tak hanya dari Malang tapi juga daerah lain. Bahkan ada yang carter angkot Malang. Ternyata rombongan dari angkot itu duduk di sekitar kami di gazebo. Mereka dari Dinoyo, Kota Malang sebagai rombongan komunitas lansia. Lokasi wisata itu bernuansa kejepangan dengan memfaatkan sumber air yang ada.
Jadi ada kolam buat anak-anak dan orang dewasa berenang. Juga ada aliran air yang dimanfaatkan buat river tubing. Sewa bannya Rp 5000 per orang tanpa batasan durasi. Anak, keponakan dan paksu berenang. Mereka senang karena airnya tidak mengandung kaporit. Jadi segar sekali. Saya kebagian jaga barang!!!! Ahay....Tapi saat mereka selesai berenang, saya gantian berkeliling melihat suasana.
Yang tidak saya prediksi adalah jumlah pengunjung yang membeludak. "Memang kalau akhir pekan begini (Sabtu-Minggu)," kata pemilik warung. Umumnya rombongan yang datang. Ini bisa dilihat dari bajunya yang seragam. Juga ada rombongan reuni yang terdengar saling bersahutan menyanyi lagu-lagu lama. Hmmm...saya hanya mendengarkan saja. Tapi sumpah, tidak ngapa-ngapain itu juga capai. Disini enaknya bebas membawa makanan dan minuman sendiri. Karena itu wisatawan mungkin suka kesana.
Meski di lokasi ini juga ada warung-warung makanan dan minuman. Jadi kesimpulan saya, jika wisata desa dioptimalkan dan dikelola dengan baik, hasilnya bisa menjadi pendapatan desa. Dari sisi sarana jalan juga bagus dan mendukung. Oh ya, desa ini juga penghasil kopi. Tak heran, di rumah-rumah warga juga ditanami kopi yang bisa dijual mereka sendiri pada wisatawan. Lain kali, kemana ya, kawan? Sylvianita Widyawatifoto/sylvianita widyawati
Komentar
Posting Komentar