Jalan-Jalan Ke Malioboro

Meski jalan menuju ke Malioboro Jogjakarta selalu macet, setiap ke kota ini, saya menyempatkan kesana. Seperti yang saya laksanakan pada Rabu (28/6/2017). Dari Terminal Jombor Sleman, saya menumpang bus Trans Jogja. Niat saya sebenarnya pingin menjajal busnya yang baru. Yang warna biru itu.

Namun sayangnya saat itu saya mendapatkan bus 2A yang lama. Tapi gak papalah. Kondisinya masih oke dan AC nya masih dingin. Harga tiket per orang Rp 3500. Perjalanan awalnya lancar saja sampai kemudian mendekati jalan Malioboro agak macet. Kami kemudian memutuskan turun di halte depan hotel Grand Inna Garuda di Jl Malioboro.

Oh ya, hotel itu ternyata sudah berubah. Namanya Grand Inna Malioboro. Setelah turun dari bus, kami jalan kaki ke Malioboro Mall. Tujuannya makan siang. Anak-anak sudah mulai lapar ternyata. Kami langsung ke  food court saja. Kami punya tempat favorit. Yang mengasikkan di tempat itu adalah kami bisa melihat langsung kokinya memasak.

Bau masakannya semerbak dan bikin kita tambah lapar. Oh ya, selama kuliner di Jogja, saya selalu mendapat pertanyaan apakah masakannya dimasak manis atau gurih? Selama saya di Jawa Timur, kata gurih jarang dipertanyakan. Jadi kalau pesan A yang include rasanya. Tapi kalau di Jogja, entah kebetulan atau bagaimana, selalu ada pertanyaan itu.

Ternyata kalau gurih artinya diberi tambahan rasa X, misalnya. Dan manis artinya ya manis. Akhirnya saya bilang gurih. Ternyata benar gurih. Begitulah. Kami lahap saja memakan menu siang itu. Setelah itu kami berjalan-jalan di seputar mall. Dari lantai atas sampai basement, wkwkwkk. Tujuannya ya biar puas jalan-jalannya.

Lagian, kami sudah janjian dijemput di Terminal Jombor agak sore. Jadi setelah puas di mall, kami menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Siang tadi panas banget. Jadi kami pilih jalan berdesak-desakan di trotoar lama depan toko-toko. Penuh perjuangan lo. Maklum, pembeli banyak banget yang berhenti di depan penjual kaos oleh-oleh. Dan dari arah berlawanan juga ada yang jalan.

Singkat kata, rencana saya main ke Pasar Beringharjo gagal karena anak-anak ogah masuk. Begitu juga ke benteng. Dari depan Pasar Beringharjo, kami menyeberang ke Mirota yang sekarang jadi Hamzah Batik. Di dalamnya ternyata sudah ramai banget. Anak-anak makin bete meski di dalam AC-nya lumayan dingin. Setelah mendapat kaos, kami keluar dan berjalan menuju halte bus depan Taman Prestasi.

Untunglah kami segera mendapat bus Trans Jogja 2B yang langsung ke Terminal Jombor. Busnya gak terlalu penuh. Kami semua mendapat tempat duduk. Rahma sudah mengantuk di bus. Sehingga saya harus membangunkan ketika sampai di terminal.

Setelah itu menunggu jemputan adik ipar saya. Suami saya lebih dulu dijemputnya karena ada reuni dengan teman-teman sekelasnya di STM Negeri 1 Jogjakarta dulu. Liburan lebaran di Jogja, suami saya sibuk reuni. Reuni SMP, reuni STM, wkwkwk.

Karena itu, saya dan anak-anak memilih jalan-jalan sendiri. Sayang kalau sudah di Jogja tidak jalan-jalan dengan Trans Jogja. Selain murah, bersih juga nyaman. Bandingkan dengan naik bus biasa tadi. Lebaran dimanfaatkan untuk menekan penumpang.

Dari Tempel Kabupaten Slemen ke Terminal Jombor, saya dan anak-anak dipatok Rp 40.000 dengan alasan bodho atau Lebaran. Bandingkan jika saya tadi naik Grab misalnya hanya Rp 25.000. Begitulah cerita hari ini. Salam dari Jogja. Sylvianita Widyawati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini