SembilanTahun ‘Dikerangkeng’ Ibunya

Fakih dan ibunya, Nusrotul Ulwiyah, Kepala Puskesmas Wajak
 Nusrotul Ulwiyah (44), warga Jl Dr Sutomo RT 7/RW 3, Desa Codo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang tidak menyangka anak pertamanya M Ali Fakih Hasyim (17) dari empat bersaudara harus mengalami gangguan pertumbuhan. Usia remaja yang produktif akhirnya hanya dihabiskan dalam ruangan yang mirip ‘kerangkeng’ selama ibunya mencari nafkah di Pasar Wajak mulai pukul 05.00-17.00 WIB.
Terpaksa Fakih ‘dikerangkeng’ oleh ibunya karena jika dilepas, laki-laki yang tubuhnya seperti anak usia 10 tahun ini sering mengganggu orang. Tenaganya juga dirasa sangat luar biasa. Bentuk ‘kerangkeng’ Fakih hanyalah sebuah ruangan berukuran 1,5 meter kali dua meter yang berada di sebelah kiri rumah induk. Awalnya karena tiada biaya, tempat hunian Fakih masih terbuat dari anyaman bambu. Tapi karena sering dipukul-pukul, maka gedheg-nya sering jebol. Bahkan ia bisa menggaruk-garuk tanah dengan tangannya sehingga bisa membuat lubang dibawah anyaman bambu itu.
“Ini sudah saya bangun pakai tembok ketika ada bantuan buat adik-adiknya,” cerita Nusrotul didampingi dua anak perempuannya, Nurhalimah (11) dan Farkhatul Murfirloh (2,5) yang manis-manis ketika ditemui di rumahnya, Rabu (16/2) siang. Ini dilakukannya kepada Fakih sejak 2002 karena ia kesulitan mengawasi anaknya. Jika tidak dimasukkan dalam ‘kerangkeng’ itu, maka ia tidak bisa mengerjakan apa-apa. Beban hidupnya makin berat karena pada usai Lebaran 2010 lalu, suami tercintanya, Muhtadin yang profesinya sebagai pedagang cilok meninggal dunia. Jika dulu Fakih masih ada yang menjaga, yaitu ayahnya, kini ia harus berjuang menjaga empat buah hatinya dan mencari nafkah untuk mereka.
Rumah ibu empat anak ini sangat sederhana dan masih berlantai tanah. Ia mengaku tidak mengalami kejadian apa-apa selama mengandung Fakih. Lahir dengan berat badan 2,9 kg di rumah dengan bantuan dukun. Ia baru merasa anaknya ada kelainan setelah Fakih berusia tiga tahun. Ia tidak bisa bicara dan tumbuh seperti halnya anak seusianya. “Anak saya juga tidak pernah sakit atau mengeluh sakit,” urainya. Yang membuat Fakih sering jadi tontonan, kalau habis dimandikan dan dimasukkan dalam ‘istananya’, Fakih berulah dengan membuka seluruh baju yang dikenakannya.
Sehingga selama ditinggal ibunya, ia lebih sering bugil. Tapi jika ibunya sudah pulang ke rumah dari Pasar Wajak, maka Fakih dimandikan dan mau memakai pakaiannya. Pada malam hari, mereka berempat tidur bersama. Ia selalu berada di sebelah Fakih untuk melindungi dua anak perempuannya. “Kadang-kadang adiknya juga diganggu, seperti dijambak. Tapi adiknya bisa mengerti kekurangan kakaknya,” tuturnya sendu. Ia mengaku pernah meminta bantuan desa ketika pertama kali ada program PNPM agar anaknya bisa bersekolah. Tapi ternyata kurang mendapat perhatian dari desa.“Saya tetap ingin Fakih bisa bersekolah,” harapnya.
Ia tidak tahu lagi harus mengobati Fakih dengan cara apa karena secara fisik nampak sehat dan tak pernah ke puskesmas atau dokter. Tapi untuk bicara tidak bisa. Ketika Fakih tertawa senang, keluar juga bentuk tawa itu tapi tidak seperti umumnya. Ketika menangis karena takut, ia juga bisa dengan caranya sendiri.  “Saya tidak tahu mengapa saya diberi cobaan hidup begitu beratnya,” keluh wanita asal Desa Blayu, Kecamatan Wajak ini. Anak keduanya, M Iksan Yamroni (15) juga sudah mrotol dari MTs untuk belajar bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya.
Kadinkes Kabupaten Malang, M Fauzi menyatakan akan mengirim stafnya untuk melihat kondisi Fakih. Sebab ia juga belum tahu mengapa Fikih sampai seperti itu. Kemungkinan Fakih mengalami kelainan genetika, bisa juga karena proses kehamilannya yang terkena infeksi, kelainan organiknya dll,” jelas M Fauzi ditemui di kantornya. Dengan kejadian seperti ini, Fauzi mengingatkan perlunya bina balita dengan mengikuti posyandu sehingga pertumbuhan anak bisa diamati. “Kalau nanti keluarga itu tidak memiliki Jamkesmas atau Jamkesda, maka bisa mengurus Surat Pernyataan Miskin (SPM) dari desa. 
Akhir derita M Ali Fakih Hasyim,  remaja kelahiran 24 Oktober 1994 berujung pada rekomendasi untuk dirawat di RSJ Lawang. Hal ini berdasarkan observasi awal kepada Fakih, panggilan akrab anak pertama dari pasangan Nusrotul Ulwiyah-Mohtadin (alm) ketika dikunjungi Kepala Puskesmas Wajak, dr Endang Budi W bersama mantri dan bidan desa di rumah Nusrotul di Desa Codo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Kamis (17/2).  “Fakih mengalami keterbelakangan mental meski fisiknya sehat,” kata dr Endang.
Diduga hal itu karena kekurangan gizi ketika ibunya mengandung. Meski saat mengandung antara ibu dan janinnya sehat dan lahir dengan berat badan normal. 
Namun sebagaimana dijelaskan oleh Nusrotul, pedagang sayuran di Pasar Wajak, ia memang baru merasakan anaknya tidak tumbuh normal ketika anaknya berusia tiga tahun. Meski selama menjadi balita, Fakih juga telah menjalani inmunisasi dengan lengkap. Fakih ketika disambangi oleh Puskesmas Dampit keluar dari ‘kerangkeng’nya karena akan disuapi makan siang oleh ibunya pukul 11. 30 WIB Ia duduk di teras rumahnya mengenakan kaos hitam bertuliskan Sepultura dan memakai celana pendek warna pink.
Fakih secara fisik memang sehat dan kuat. Tapi tidak tumbuh normal sebagaimana remaja usia 17 tahun karena badannya tidak tinggi dan tidak bisa bicara. 
Bukti fisiknya sehat, ketika kepala puskesmas memeriksanya, tangannya sempat ditarik-tarik dengan kuat. Karena keterbelakangan mental, Fakih ketika melihat sesuatu, ia bisa merespons dengan tertawa juga tangis. Untuk dibawa ke RSJ, pihak desa akan menguruskan administrasi Fakih agar mendapatkan Jamkesda. Sehingga hari ini, Jumat (18/2) rencananya Fakih akan dibawa ke RSJ Lawang dengan diantar mobil ambulans milik Puskesmas Wajak. Nusrotul tak kuasa menahan gembira atas perhatian pemerintah pada anaknya yang sejak 2002 terpaksa ia ‘kerangkeng’ di sebuah kamar di sebelah rumah induk karena ia harus bekerja di pasar untuk menghidupi keluarganya.
Sebab jika dikeluarkan, Fakih juga menganggu warga. Ibu empa anak yang baru ditinggal suaminya usai Lebaran 2010 lalu menyatakan kesiapannya mendampingi Fakih selama diperiksa di RSJ karena sudah lama mengharapkan ini. Selama mendampingi Fakih, anak-anaknya akan dibantu pengawasan oleh keluarganya yang lain. Sebab di rumah masih ada tiga anaknya yang juga perlu perhatian. Sebagai ibu, Nusrotul sangat mengharapkan sekali anaknya bisa bersekolah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini