Gurihnya Bisnis Gathot Instans Pagak



Menjemur gathot instans
KUDAPAN tradisional gathot yang terbuat dari gaplek tentu sudah akrab dengan kita. Biasanya jenis camilan ini didapatkan di pasar tradisional yang dijual oleh penjual kue campur. Selain gathot, gandengan yang dijual adalah tiwul. Rasanya sedap apalagi jika sudah dicampur dengan parutan kelapa muda dan dinikmati pagi hari. Hmmm
Tapi Ny Supiani, warga RT 18/RW 5, Dusun/Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang menggarap gathot ini untuk dikemas instans.
Dimana instans karena gathot sudah dikeringkan. Penjual mengemasnya dalam kemasan plastik dengan berat 4,5 ons. Sehingga penggemar makanan ini tidak harus berburu ke pasar tradisional yang terbatas waktunya. Dengan dikemas instans, maka pembeli pun bisa menyimpan di rumah. Sewaktu-waktu ingin menikmati makanan ini, bisa menyajikan sendiri di rumahnya.  “Saya memulai sejak 1999,” jelas Supiani ditemui di rumahnya baru-baru ini.
Jika kita membeli di pasar tradisional dan tinggal menikmatinya saja, tentu tidak pernah membayangkan bagaimana lamanya proses membuat gathot yang mencapai satu minggu. Dari bahan gaplek, ia kemudian merendamnya satu hari satu malam, kemudian dikukus dan diungkep selama satu atau dua hari. Setelah kelihatan menghitam, ia baru mengirisinya. Setelah itu baru dijemur untuk diangin-anginkan. Kemudian dikeringkan lagi sampai dua atau tiga hari. Baru setelah itu, gathot yang sudah berbentuk seperti keripik itu dimasukkan dalam kantong-kantong plastik.
Untuk mendapatkan bahan bakunya, ia membeli dari Kecamatan Dampit dan sedikit dari Kecamatan Pagak karena kualitasnya masih kurang bagus dibanding dari Dampit. Sehari, ia bisa mengolah 80 kg gathot instans. “Kalau permintaan tinggi, malah bisa mencapai produksi 1,5 kuintal per hari. Tapi sering kuwalahan memenuhi permintaan karena pasokan gapleknya juga susah,” jelas wanita yang mengetuai poktan Ngudi Lestari ini.
Pasar gathot instansnya hingga mencapai Jawa Tengah, selain diminati di pasar Turen, Singosari, Kabupaten Blitar, Pasar Wonokromo Surabaya, Pandaan dll. “Ini saya masih kesulitan memenuhi permintaan gathot instans untuk Pandaan yang minta tiga kuintal,” cerita Supiani. Gathotnya per 4,5 ons dijual darinya Rp 3000, tapi jika membeli di luar menjadi Rp 4.500. Selain gathot, ia juga memproduksi tiwul instans rasa manis.
Supiani kini mungkin sudah menikmati hasil jualan gathot instansnya yang pemasarannya sudah keluar Kabupaten Malang. Tapi wanita kelahiran Pagak, 13 Juli 1966 ini sempat tergiur berbisnis ayam potong pada tahun 2000-an. Padahal usaha gathotnya waktu itu mulai berkembang. “Tapi ternyata tidak berjodoh dengan bisnis ayam potong. Saya malah bangkrut semua. Akhirnya saya kembali menekuni bisnis gathot instans hingga sekarang,” cerita ibu dua anak ini.
Omzet bersih perbulan mencapai Rp 2,5 juta. Katanya, meski ada poktan, namun yang bergerak dan mengeluarkan modal hanya dia sendiri. Sementara yang lainnya hanya menjadi pekerja. Jika sedang ramai, ia bisa mengerjakan 11 pekerja di rumahnya. Yang unik dari bisnis ini, jika sedang musim hujan, permintaan akan gathot instans justru malah naik. “Mungkin kalau musim hujan kan maunya pingin nyamil saja. Jadi memberi dampak pada permintaan barang,” jelas wanita berjilbab ini. Jika musim hujan, ia memang mengeringkan gathot buatnya ke oven. Sehingga meski sering turun hujan, produksinya tidak mengalami hambatan. Di Kecamatan Pagak, produksi gathot instans tidak hanya dirinya saja.
Soal daya tahan gathot instans buatanya, katanya bisa mencapai tiga bulan. Sementara untuk tiwul instans bisa mencapai satu tahun. Untuk menikmati gathot intans ini, proses masaknya juga lumayan butuh waktu panjang. Tuangkan isi gathot intans ke air hangat dan direndam selama dua jam. Setelah itu ditiriskan. Kemudian kukus selama 30 menit. Makin nyamleng lagi jika dicampur dengan parutan kelapa muda yang telah diberi garam sedikit.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini