Merasakan Rafting

Rafting di Kali Kromong, Kec Pacet, Kab Mojokerto (3/2/2012)
KAPOK! Hanya kalimat ini yang bisa aku ucapkan setelah merasakan rafting di Kali Kromong, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto pada 3 Februari 2011 lalu.

Aku tidak sendirian merasakan ini. Hampir seluruh temanku yang ikut kegiatan outbond yang digagas oleh perusahaanku, Harian Surya (PT Antar Surya Media) mengeluarkan komentar ini.

Keberanian muncul karena aku tidak pernah mengikuti rafting. Sejak dulu aku ingin sekali ikut rafting tak pernah kesampaian. Pernah merencanakan ke Kasembon. Di sana ada Kasembon Rafting. Sudah siap mental, tapi waktunya bersama teman-teman sering tidak klop. Sebab setiap hari kita sudah capek mengerjakan tugas mencari berita.

Karena itu, ketika ada outbond dengan kegiatan rafting, aku semangat. Kegiatan rafting dimulai ketika Pak Sujarwanto, Sekretaris Redaksi Harian Surya mendata peserta dimulai dari orang-orang yang gemuk, Aku pun angkat jari pertama. "Woi, kamu nggak gemuk," komentar Pak Jar.

Aku menjawab, aku gendut, sambil cengengesan. Ternyata dalam satu tim itu harus ada keseimbangan. Makanya dalam perahu karet rafting didata sesuai keseimbangan. Oke. Setelah masalah pendaftaran kelar, kami bersiap memakai rompi pelampung dan helm. Kacamata terpaksa ditinggalkan karena ditakutkan 'kenter' atau malah mengganggu.

Kacamata pun kutinggal di panitia. Timku ada empat orang. Aku, Pak Ale, Anas dan Wiwit. Ketika semangat berangkat, diolok-olok teman-teman sebagai tim yang nggak bisa renang. Hhm...Memang,
Setelah itu, rombongan dibawa naik pikap menuju desa tertinggi sekitar 20 menit. Wuih..jalannya menanjak sekali.

Aku jadi ingat angkutan pikap ini sering dipakai warga-warga pedesaan yang aku lihat di Kabupaten Malang. "Wow...begitu rasanya,...," pikirku. Nggak nyaman. Saat kita sampai di desa itu, hujan mulai turun rintik-rintik. Aku merasa khawatir saja. Namun aku berusaha tenang.

Dari tempat penurunan tim, ternyata kita masih menuruni bukit menuju Kali Kromong. Wois..capek banget. Turunannya tajam. Tapi untung sih liputan di Kabupaten Malang masih sering jalan. Jadi aku berusaha menikmati meski capek. Sampai akhirnya kita di bibir Kali Kromong. Di lokasi itu, kami masih menunggu karena antre perahu ban.

Terus terang, Rasa tenang sudah berubah jadi deg-degan. Sebab air kali sudah mulai kotor dampak dari hujan turun. Aku jadi membayangkan yang bukan-bukan. Bagaimana jika ada air bah atau tebing itu runtuh karena hujan.

Bismillah. Petualangan mulai.....
Kami naik perahu karet berempat ditemani seorang instruktur. Tata cara rafting baru diajarkan ketika kami sudah berada di perahu. "Kalau saya bilang booom, caranya begini dll," cerita instruktur sambil kita praktikkan. Begini, pikirku. Jadi konsentrasinya adalah mendengarkan perintah instruktur jika ingin rafting lancar.

Ini yang kami jalankan. Begitu jalan, wooooooooww, sudah diserang gelombang air. "Ahhhhhhh," teriak kita. Mengalihkan khawatir memang berteriak saja. Alirannya Kali Kromong luar biasa 'kejam'. Pak Ale sempat keluar dari perahu karet karena dihantam perahu lain. Aku hanya bisa 'nyangking' rompi pelampungnya.

Tak heran, wajah-wajah kami ketika dipotret, adalah wajah takut, khawatir, dan puuuuccaaatttt. Tiap kali usai berhasil melintasi jeram gawat, aku hanya bisa bilang ke instruktur, "Mas, aku boleh lewat jalan darat ta? Aku nggak tahan dinginnya," ceritaku pada instrukturku. Mataku hanya memandang tebing-tebing yang membentengi Kali Kromong.

Rasanya tidak ada jalan keluar dari sungai itu lewat darat. "Sabar, Mbak. Ini belum sepertiganya. Terus ya?" kata instrukturku. Waduuuhhh.....Aku hanya bisa mengangguk. Setelah itu, aku teriak-teriak lagi ketika melewati jeram susah. "Ahhhhhhhhhhhhhhhh," teriakku. Episode paling menakutkan ketika perahu kami terdapar karena terhadang batu besar.

Kami ketakutan semua.Tapi paling menakutkan ketika instruktur kami tidak ada di belakang kami. Lho, kemana? Ternyata dia terlempar. Tahu-tahu dia sudah ada di depan kami setelah melewati jalan di tebing. Hadoooohhh....

Total melintasi Kali Kromong sepanjang 6 Km ditempuh sebanyak tiga jam. Begitu sampai finish, hanya ucap syukur yang bisa aku ucapkan, juga teman-teman lainnya. alhamdullilah. Badan sudah menggigil. Kalau diingat dingin waktu itu, aku juga heran mengapa bisa bertahan. Tapi sudahlah, akhirnya aku merasakan petualangan baru yang tidak boleh aku coba lagi. Bye...bye Kali Kromong...Saya tidak akan mencobanya lagi, Syvianita widyawati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini