10 Tahun Lalu, Si Bungsu Menyuruh Saya Pensiun
Dari Facebook diingatkan ada kenangan saya 10 tahun lalu. Ketika saya lihat, ternyata utas saya tentang saran si bungsu, Rachma agar saya pensiun sebagai wartawan. Sehingga saya bisa di rumah santai. Mengerjakan pekerjaan rumah dan menunggu anaknya pulang sekolah. "Tapi ibu jangan tidur saja di rumah," ujar Rachma waktu itu. Jika itu 10 tahun lalu, Rachma saat itu berusia delapan tahun. Saat itu ia masih kelas dua SD.
Sebagai anak bungsu, saya bisa memberikan perhatian lebih karena kakaknya selisih tiga tahun dan enam tahun. Kakaknya sudah lebih mandiri. Sedang bocil bungsu terpenuhi perhatiannya. Sejak playgroup sampai kelas 6 SD saya selalu mengantarnya. Bahkan saat PG, TK A dan B saya tunggu di kelas karena ia tidak mau ditinggalkan. Saat itu saya masih aktif bekerja sebagai wartawan. Bisa dibayangkan bagaimana bergulatnya pikiran saya. Sebab saya selalu khawatir ada kejadian atau peristiwa terjadi.
Begitu pulang sekolah, saya langsung bekerja. Anak-anak ke rumah ibu saya sampai saya kembali. Begitulah waktu berputar. 10 Tahun kemudian, saya pensiun. Cepat rasanya. Tapi sekarang anak-anak sudah besar semua. Si sulung sudah bekerja. Si tengah masih kuliah di semester 5. Sedang Rachma si bungsu di kelas 12 SMK. Sejak pensiun, saya jadi kaum berada. Berada di rumah. Kadang-kadang saya juga keluar rumah buat me time.
Anak-anak sudah sibuk sendiri. Jadi saya ya menyibukkan diri. Ada saja yang bisa dikerjakan selain ingin tidur. Pensiun saya buat santai saja. Dibuat mengalir. Kesibukan pagi saya selalu membukakan pintu pagar rumah buat si bungsu keluar rumah buat sekolah. Lalu berikutnya kakak-kakaknya. Srat...sret..suara geretan pagar depan rumah selalu terbuka dan tertutup. Kalau saya mager, saya bisa memilih tidur sebentar. Habis itu bersih-bersih rumah.
Saya bersyukur bisa membagi waktu dulu ketika memutuskan bekerja dan menjadi IRT meski tak mudah. Sayang pekerjaan dilepas karena bisa buat eksistensi dan menambah pengalaman. Anak-anak juga bisa mendapatkan cerita pengalaman saya agar menjadi inspirasi mereka agar bekerja kelak buat diri mereka. Meski harus akrobat waktu, tapi saya kok senang saja. Tapi kadang-kadang jika pagi datang, aduh..kok kerja lagi ya? Wkwkwk. Sylvianita Widyawati
Komentar
Posting Komentar