Yuk...Jalan-Jalan ke Arjuna Geopark di Perkebunan Wonosari Kabupaten Malang

Akhirnya ke Arjuna Geopark (Agepe) di kawasan Perkebunan Wonosari, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Minggu (16/11/2025) bersama keluarga. Anak-anak maunya ke perkebunan dan tidak mau dulu ke Coban Pelangi. Saya akhirnya kompromi dengan kemauan mereka. Paksu senang saja karena masih capek habis tugas kantor dari Bali selama beberapa hari. Karena sudah berangkat agak siang, kami lewat tol Sawojajar-Lawang agar cepat sampai.

Awalnya ya khawatir mendung atau hujan di Lawang. Sebab di Kota Malang sudah agak redup. Tapi ternyata disana terang. Untuk masuk kawasan perkebunan, tiket berempat dan parkir Rp 105 ribu. Ini karena weekend ya. Tiket masuk agak mahal. Setelah parkir mobil, kami jalan kaki ke arah Arjuna Geopark. "Kalau jalan-jalan sekitar lokasi ya gratis. Tapi kalau masuk ke kafenya, bayar tiket lagi Rp 10 ribu," jelas petugas yang sedang berada di parkiran mobil. 

Menurutnya, di depan kafe juga bisa buat parkir mobil. Tapi disana sedang penuh. Menuju ke arah kafe juga ada petugas yang memberi informasi jika parkiran mobil depan kafe penuh. Kalau menurutku, parkir mobil enaknya ya di lapangan parkir utama. Lalu kita jalan kaki ke arah kafe sambil menikmati suasana perkebunan teh yang asri. Cuaca cerah tapi tidak panas. Suhu saat itu mungkin 24 derajat. Jadi selama disana tidak merasa kepanasan.

"Enak ya disini. Sejuk. Aku gak berkeringat blas," kataku pada Jasmine, anak kedua. Setelah sampai di depan kafe, kita ke loket tiket. Disana juga ada pemberian voucher minum. Lumayan, pikirku. Jadi gak usah beli minum lagi kalau mau makan di kafe. Suasana di area kafe banyak pengunjung. Disana juga banyak gazebo-gazebo buat nongki. Di kafe, ada penyanyi juga yang menghibur pengunjung. Karena datang agak siang, kami belum dapat tempat duduk buat nongki.

Akhirnya kami eksplor saja sekitar kafe. Banyak spot-spot foto. Jika dilihat dari pengunjung, kebanyakan adalah keluarga saat itu. Setelah gabut, saya dan anak saya ke kafe buat memesan makanan. Minumannya dengan menukarkan voucher. "Ini bisa ditukarkan minum es teh, teh, kopi atau jahe," kata petugas kafe ke kami. Wah..banyak pilihan juga. Saya memutuskan mengambil tiga es teh dan jahe hangat. Lalu anak saya memberi informasi jika sudah dapat tempat duduk.

Untuk harga makanannya relatif terjangkau. Saya kaget, nasi sup iga hanya Rp 35 ribu. Anak-anak pesan nasi krawu, nasi goreng dan nasi ayam geprek. Harganya dibawah Rp 20 ribu. Kaget sih (saya). Semoga harganya begini saja biar makin diminati kafenya, hehehe. Hmmm..rasanya enak semua. Sungguh. Jadi saya bagian icip-icip makanan kan. Nasi sup iganya saya habiskan dong. Enak. Fresh baru dimasak. Ada tiga buah daging iga yang tidak alot. 

"Kapan-kapan kesini lagi aja, Yah. Enak buat nongkrong dan suasananya," kataku pada Paksu. Iya hanya menjawab iya, hehehe. Memang yang agak mahal itu ya tiket-tiket masuk dobel di kawasan itu. Pertama ya masuk kawasan perkebunan. Lalu bayar lagi masuk kafenya. Tapi anggaplah ini sesuai dengan keindahan alamnya dan buat menjaga alamnya. Kalau untuk biaya tambahan makan adalah keputusan pribadi setiap wisatawan. 

Sebab jika ingin masuk kafe saja juga tidak masalah dengan menikmati spot-spot yang ada tanpa makan. Selain kafe, jika ingin jalan-jalan lagi ya bisa ke Bukit Kuneer. Nanti saat masuk ke Bukit Kuneer juga harus membayar Rp 10 ribu per orang. Dari perkebunan PTPN 12 yang relatif sering saya kunjungi ya Perkebunan Wonosari. Disini banyak nilai lebihnya buat olga dan wisata. Di kafe ini juga dilengkapi toilet dan mushola.

Juga ada lokasi camping ground. Saat keluar toilet, saya sempat disapa seorang perempuan. "Bu, ibu Bu Benggol ya," tanyanya. Saya jawab, bukan, Bu. "Soalnya mirip," kata dia. Saya lalu izin wudhu dekat mushola. Saya kagetnya bukan karena dikira Bu Benggol. Saya khawatir pernah kenal orang itu tapi saya lupa. Untungnya beliau salah sebut, wkwkw. Sejak pensiun, saya kan sudah jarang ketemu narsum atau teman. Saya khawatir dikira lupa atau sombong.

Untunglah bukan. Oh ya, saat jadi jurnalis lalu, saya juga pernah liputan di Perkebunan Kalibakar dan perkebunan kopi Bangelan di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Dulu di perkebunan Bangelan dikembangkan kopi luwak. Tapi kemudian luwaknya dipindah ke perkebunan di Banyuwangi. Sylvianita Widyawati

Foto/sylvianita widyawati



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Perajin Kroso, Pahlawan Bagi Petani Kelengkeng