Mengais Rupiah Dari Ternak Tikus Putih


Beginilah ternak tikus putih yang ada di Kec Ngajum
TIKUS, binatang pengerat menjijikan yang biasanya dimusuhi banyak orang, ternyata bisa juga dipakai untuk mengais rupiah. Setidaknya Singgih, warga Dusun Gendoko, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang sudah membuktikannya meski itu masih untuk penghasilan sambilan.
Pekerjaan utamanya Singgih adalah buruh tani di dusunnya. Tapi setelah melihat tikus putih yang jinak itu bisa diternakkan setelah berjalan-jalan di Desa Bumirejo, Kecamatan Wonosari, ia jadi tertarik menekuninya.

Maka rencana ruangan yang awalnya akan dibuat dapur dijadikan tempat berternak tikus putih sejak Oktober 2010 lalu. “Ini masih langkah awal. Tapi memang sudah mendapat peminat dari Jakarta dan Surabaya,” cerita Singgih ditemui di rumahnya, Rabu (6/7). Ruangan ukuran 3 x 5 meter di belakang rumah induk dijadikan tempat beternak.

Ada kandang-kandang untuk tikus putih yang relatif bersih dan didalamnya ada bak-bak. Awalnya, ia secara bertahap membeli tikus indukan yang berekornya senilai Rp 20.000. Kemudian terkumpul 80 indukan yang sudah dalam kondisi hamil dan ia memiliki 15 jantan yang dibeli per ekor Rp 15.000. Satu bulan kemudian, tiap indukan itu menetas dan melahirkan anak tikus lima sampai sembilan ekor. Kemudian 1,5 bulan kemudian, tikus indukan itu bisa melahirkan anak lagi yang maksimal per ekor bisa mencapai 12 ekor.

“Untuk kelahiran berikutnya, biasanya anak yang dilahirkan indukan makin banyak,” ungkapnya. Pembeli tikus hidup itu adalah pedagang dari Jakarta dan Surabaya yang digunakan untuk makanan hewan liar seperti ular peliharaan dll. Jika anak tikus sudah mulai berusia antara 20 hari sampai 25 hari, maka per ekor bisa dijual Rp 1.500. Sementara untuk usia dua bulan bisa Rp 3.500 per ekor.

Yang besar bisa mencapai Rp 6.000 per ekor. Kata Singgih, terbanyak yang diminati pedagang adalah tikus usia dua bulan. Tiap bulan setidaknya ia mampu menjual 300 ekor sampai 500 ekor.
“Lumayan juga omzetnya per bulan,” tandasnya. Jika yang diminati adalah tikus putih harga Rp 3.500-an, maka jika laku 500 ekor, setidaknya ia sudah mengantongi Rp 1,7 juta.

Ia juga tidak mengeluarkan ongkos angkut karena pengepul Jakarta dan Surabaya justru mendatangi rumahnya. Katanya, tikus usia 2,5 bulan sudah kawin. Makanan untuk ternak tikus juga murah seperti daun singkong, rumput, ubi dll. Untuk penyakit, sejauh ini juga tidak ada dan bebas sehingga tikus bebas dari bahan kimia.

Terpisah Kasun Gendoko, Wibowo menyatakan di dusunnya saat ini ada tujuh orang yang sedang mengembangkan ternak tikus. “Pada awalnya adalah Pak Abdi dan Pak Singgih dan kemudian Bu Juwariyah. Selain itu ada empat orang lainnya yang juga berusaha ternak tikus putih,” ungkap Wibowo.

Namun empat orang lain itu masih berupa pembibitan sehingga belum menghasilkan. Tiga warganya itu per bulan bisa menjual tikus putih antara 700-1.000 ekor. Ia berharap, hasil ternak warganya bisa makin melebarkan pasar sehingga bisa makin berkembang. sylvianita widyawati

Komentar

  1. saya juga berminat mau usaha ternak tikus putih tapi saya tidak tahu mesti beli dimana untuk indukan tikus putih di daerah karawang

    BalasHapus
  2. tikus putih nya masih adakah sam

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini