Napak Tilas Mengunjungi Wisata Air Sumber 7 di Tumpang Setelah 14 Tahun
Pergi ke wisata air Sumber 7 di Desa Duwet Krajan, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang adalah perjalan paling niat, Sabyu (27/12/2025). Saya mengajak Paksu karena bisa sambil olga jalan kaki serta bisa diantar kesana. Dari rumah di Sawojajar Malang, kami niatnya berangkat jam 07.00 WIB. Tapi dengan keruwetan dikit, akhirnya berangkat jam 07.30 WIB. Kenapa saya semangat banget ke Sumber 7?
Karena ini saya anggap perjalanan napak tilas. Pada 2011, saya dan teman-teman wartawan pernah kesana. Waktu itu, ada informasi jika sumber airnya akan dimanfaatkan PDAM. Karena hal baru, kita kepo ingin melihat sumber air itu. Berangkatnya ya pakai outfit saat itu. Saya pakai celana dan jaket jins serta sepatu fantovel. Tidak ada bayangan bagaimana jauhnya sumber air itu. Saat itu kita berempat datang ke desa itu. Akhirnya sampai di dekat balai desa setempat.
Ndilalah kok ketemu sekdes waktu itu dan diantarkan. Jauh poll dan tak terbayangkan.Telapak kakinya rasanya berpendar-pendar karena lelah. Sumber 7 saat itu bagus banget. Ada air terjun dan di dekatnya ada sumber air yang dimanfaatkan jadi pasokan air PDAM. Nah, saya ingin nostalgia kesana. Apa masih sama keindahannya. Pada Sabtu pagi itu, di kawasan Tumpang mendung. Sepertinya habis hujan. Kami menggunakan gmap sebagai penunjuk jalan.
Saat sampai di desa itu, sebenarnya tandanya sudah jelas ada di pinggir jalan. Tapi saya kok tidak yakin jalannya itu. "Kayaknya dulu, aku lewat gang dekat rumah," kataku pada paksu. Akhirnya kita jalan terus sampai di Dusun Tosari. Pagi hari tapi jalan berkabut. Ngeri-ngeri sedap. "Lo masak sampai di Tosari, Kabupaten Pasuruan?," pikirku. Paksu lalu turun dari mobil dan menanyakan lokasi Sumber 7. Ternyata harus berbalik arah, wkwkw.
Setelah sampai di Dusun Krajan, paksu menanyakan lagi ke warga. Ternyata benar tanda penunjuk jalan Sumber 7. Kami izin parkir di depan rumah warga. Saya bercerita pada suami jika dulu tidak lewat ini. Di papan penunjuk ada informasi jarak ke Sumber 7 sekitar 1 km. "Masak sih," pikir saya. Kalau salah, anggap saja itu sebagai penyemangat. Jalannya turun, datar, turun dll dengan media jalan cor, tanah dan paving stone. Akhirnya ya kita ikuti jalannya saja sesuai petunjuk yang ada.
Penolong saya adalah tongkat selama perjalanan. Karena jalannya lebih banyak turun, maka harus hati-hati. Apalagi ada lumut-lumut. Yang menyenangkan adalah kami melewati ladang-ladang yang ditanami warga. Umumnya ditanam sayuran labu siam. Hmmm...senang saya melihat buah itu. Banyak juga yang jatuh. Tapi tidak berani ambil. Saya kira, perjalanan ke Sumber 7 mungkin sekitar 2,5 km.
Pas kita turun, ternyata ada jalan cor yang mengarah ke Sumber 7. Terdengar suara air terjun. Akhirnya sampai juga !!!! Disana ternyata sudah ada dua pengunjung lain. Saya sempat bertemu di pertengahan jalan. Saya persilahkan jalan duluan karena saya jalan santai. Yang bikin syok adalah air terjunnya berwarna cokelat. Ini mungkin karena habis hujan. Sedang di Sumber 7 nya (sumber air) tetap jernih.
"Mbak, kalau bisa, mainnya disini sebentar saja. Takut hujan. Sebab airnya bisa meluap sampai di jalan. Nanti malah tidak bisa pulang," kata salah satu warga disana. Langit juga kembali mendung. Saya jawab, kami hanya sebentar. Memang tidak sesuai ekspektasi karena datang saat musim hujan. Tapi setidaknya, kami sudah jalan kaki sampai Sumber 7 sebagai sarana olga jalan kaki. Mereka juga menyarankan bisa lewat jalan cor yang lebih enak dibanding lewat jalan semula.
"Tapi ya memutar. Jadi agak jauh. Tapi jalannya enak," kata warga itu. Kami (saya, paksu dan dua pengunjung) memilih lewat jalan itu. Ternyata jalannya tembus samping gang sebelah balai desa. Dengan adanya jalan itu, maka wisatawan bersepeda bisa sampai mendekati Sumber 7. Saat kami pulang, kami bertemu dengan rombongan wisatawan yang berboncengan naik motor. Sebenarnya saya suka dengan perjalanan kali ini karena masih olga jalan kaki dengan jarak jauh.
Meski harus berkeringat deras, wkwk. Dampaknya, saya pulang dengan alergi karena berkeringat. Tubuh saya bentol-bentol gatal. Untung di mobil ber AC. Keringat kering tapi masih gatal. Sampai rumah, saya langsung mandi dan minum obat alergi. Tapi habis itu teler banget. Kaki kanan emang agak njarem dan saya beri freshcare biar rileks. Kesan saya dengan perjalanan ini, memang asik tapi kondisinya sudah agak berubah.
Paksu bilang kurang sreg di Sumber 7 tapi masih mau main lagi kesana. "Soalnya belum lihat sumbernya yang dekat bangunan PDAM itu," kata dia. Saya bilang, saya tidak berani turun ke aliran karena airnya cokelat. Kita juga tidak tahu kedalamannya. "Nanti kapan-kapan kesana lagi ya pas kemarau. Tapi jalan pulangnya naik lagi saja. Jangan lewat jalan memutar itu," kata paksu. Saya jawab, oke. Entah kapan kesana lagi. Sylvianita Widyawati
Komentar
Posting Komentar