Pertama Kali Ngebus Malang-Batu Naik Transjatim Malang, Towok Pol !!!
Naik bus Transjatim Malang ke Kota Batu akhirnya tidak jadi wacana lagi. Usai mengambil raport bocil di SMKN 2 Malang, bersama keponakan naik bus itu dari halte depan SMAN 8 Malang Jl Veteran, Jumat (19/12/2025). Banyak juga yang akan naik bus itu. Rasanya seru naik bus hanya bermodal Rp 5000/orang. Awalnya berdiri. Lalu dapat tempat duduk di belakang sampai Terminal Batu.
Bagi saya, ini pertama kali ke Batu naik bus umum. Sebelum turun di Terminal Batu, saya ngobrol dengan penumpang sebelah saya. "Saya habis sampai Batu, mau turun ke Malang lagi," kata si Mbak. Ini pertama kali dia naik bus Transjatim sampai Batu. Alasan utama pingin nyoba dan murah. "Nggak kulineran dulu ta?" tanya saya. Saya cerita jika mau ke Pasar Among Tani di seberang Terminal Batu. Selain lapar, saya ingin istirahat dulu. Perjalanan cukup panjang.
Mbaknya tidak mau. "Saya kayaknya mau langsung balik saja ke Malang saja, Mbak," jawab dia. Lalu kami berpisah. Saya menyeberang jalan ke Pasar Among Tani yang pernah diresmikan Presiden Jokowi lalu. Bus melewati jalan-jalan desa di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang yang tembusannya ke Kota Batu. Karena pertama kali, saya antusias di perjalanannya. Saya lihat halte-haltenya yang sudah khusus dibuat untuk penumpang.
Saya pikir, lewat jalan-jalan desa cocok dengan bus kecil. Warga desa juga ada akses transportasi umum. Selain itu, treknya juga tidak mengganggu bus umum atau angkot yang sudah ada. Kondisi jalan desa memang tidak terlalu lebar. Bus juga masuk ke area wisata Jatim Park Grup termasuk Jatim Park 2. Perjalanan dari Malang ke Batu sekitar 2 jam an. Hawa di Batu relatif sejuk saat kita sampai. Sasaran kita ke lantai 3 untuk kulineran. Sebenarnya tempat kulinernya luas. Ada di sisi lainnya.
Tapi kita mencari gampangnya saja sambil memantau kedatangan bus di terminal. Daripada bingung makan apa, kami memutuskan makan nasgor seafood cumi dan bihun goreng serta minum es teh dan es jeruk. "Kalau gak ada pasar ini, kita kalau ke objek wisata lain sudah mager ya. Capek juga di jalan," kataku pada keponakan. Memang tidak kami eksplor semua area pasar. Karena juga ada toko-toko yang tutup. Tak lupa kami beli camilan di lantai bawah. Ada banyak toko grosiran.
Lalu kami menyeberang ke terminal. Disana sudah banyak yang antri. Awalnya saya kurang tahu sistem antriannya. Lalu ada calon penumpang yang memberi info, bagi yang baru datang, duduknya agak kesana (bukan di dekat pintu keluar). Tak lama ada petugas memberi nomer antrian pada calon penumpang yang akan berangkat dengan bus yang sudah ready. Untung bus-bus berikutnya segera datang.
Dengan nomer antrian, semua penumpang dapat tempat duduk. Tapi tadi ada insiden tadi. Ada seorang penumpang yang dapat nomer antrian malah tidak dapat tempat. Petugas Dishub lalu mengecek ulang. Ternyata ada penumpang yang nyelonong masuk dan duduk tanpa nomer antrian. Bapaknya bersikap tegas dan dia minta ikut meski berdiri. Sehingga seorang penumpang dengan nomer antrian bisa duduk. Padahal tadi sempat ditanya petugas lain tidak mengaku.
Mungkin dikira naik bus bebas. Kalau tidak diatur dengan kondisi bus terbatas, maka pasti akan terjadi rebutan masuk. Dengan nomer antrian itu, maka sudah ada kepastian tempat duduk dan hanya perlu sabar menanti. Bagi yang tidak tahu skema ini, memang membingungkan. Ada calon penumpang menggendong anaknya dan membawa anak lain "nggrundel" mengapa harus antri.
"Di Surabaya tidak ada model antrian," kata ibu itu. Dalam hati saya, haloooo, busnya terbatas, Bu. Masak baru masuk sudah ogah antri. Saya amati juga ada grup penumpang yang satu orang masuk duluan dengan tujuan menyelematkan kursi buat dirinya dan teman-temannya. "Ini buat saya dan teman-teman berempat," katanya. Saya jawab, iya Bu. Saya lalu duduk di baris ketiga dari depan. Perjalanan ke Malang membuat saya mengantuk karena sudah lelah. Saya turun di Sawojajar. Sylvianita Widyawati
Foto/sylvianita widyawati
Komentar
Posting Komentar