Wah, Wayang Krucil Malang Usianya Sudah 300 Tahun

Pak Djain, sang dalang wayang krucil bersiap menjelang pentas
Saya baru mengetahui keberadaan wayang krucil setelah ada undangan. Bersama teman-teman, saya berangkat ke Dusun Wiloso, Desa Gondowangi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.

Pentas saat itu agak sore. Jadi, kami berangkat agak siang. Dengan begitu, saya masih bisa mengobrol dengan ahli waris wayang krucil itu. Namanya Mbah Sayinem (80).

Ia ramah sekali. Sambil ngobrol, ia rajin menawarkan kudapan buat saya, he..he. Jadi suasananya santai banget. Ia mendapat wayang itu dari warisan almarhum kakeknya, Mentaram.

Namun ia sendiri kurang begitu paham mengenai wayang itu. Untunglah, ada kerabat Sayinem yang mewarisi ilmu ndalang almarhum Mentaram. Sehingga menjadikan wayang krucil itu tetap eksis hingga kini.

Pak Djain saat pentas
Menjelang pentas, saya berkenalan dengan Kades Gondowangi. Namanya Danis Setiabudi Nugroho. Kades berusia 29 tahun itu berkisah banyak soal wayang krucil.

Ia kemudian menyebutkan usia wayang krucil itu sekitar 300 tahun. Hal itu jika dilihat dari kayu dan catnya. Ia mengutip itu setelah wayang krucil diteliti oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM).

Menurut dia, jumlah karakter di wayang krucil ada 100. Namun sekarang tinggal 72 karakter. Karena tergolong wayang langka, pemerintah desa berniat membuat duplikasinya.

Sehignga ketika dipakai pentas, tidak memakai wayang aslinya. Dengan begitu, kondisinya bisa tetap terjaga. Sayinem yang saat itu berusia 80 tahun tidak tahu pasti usia wayang warisan itu. "Ya pastinya lebih tua dari usia saya," kata dia. Menurut Danis, wayang krucil terbuat dari kayu pule. Tanaman kayu itu sudah tidak ada saat ini. Untuk menikmati tontotan wayang krucil, biasanya digelar seminggu setelah Lebaran. Saat itu, lokasi pagelaran di halaman rumah Sayinem.

Wayang krucil sedang ditata untuk pementasan
Banyak tamu datang. Terutama pemerhati seni. Warga sekitar juga mendatangi pentas tersebut. Dalangnya adalah Djain yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sayinem.

Djain sehari-hari mengaku bekerja pada sebuah proyek pembangunan di Kota Malang. Saat pentas, Djain mempersiapkan panggung kecil.

Gunungan wayangannya berbentuk seperti buket berisi bulu-bulu burung Jalak Jawa.
Karena sudah sore, saya tidak menikmati penuh pentas wayang kruci.

Aduh, Bahasa jawanya saya agak sulit memahami, ha..ha. Yang jelas, saya mendapat tambahan pengetahuan baru mengenai keberadaan wayang krucil di Wagir. Semoga tetap lestari. (sylvianita widyawati)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini