Guru-Guru Urunan Plesirkan Siswa Ke Jawa Tengah



MALANG- Karena tak kunjung ada kepastian pengembalian uang tabungan siswa untuk pelesir keBali dari Sugiana, mantan Kepala SMPN 1 Kromengan , para guru di sekolah itu akhirnya berinisitif untuk urunan dengan uang mereka sendiri. Uang itu diambilkan dari tunjangan sertifikasi guru yang didapatkan.  “Jumlah guru yang bersertifikasi di SMPN 1 Kromengan sebanyak 30 orang. Per guru urunan Rp 500.000 akhirnya terkumpulkan uang Rp 15 juta,” tutur Apit Sapto Usodo, Humas SMPN 1 Kromengan.  Selain dari uang urunan para guru, masih ditambah dengan sisa tabungan siswa yang per anak mencapai Rp 70.000. Jumlah siswa kelas 9 sebanyak 238 orang. Sehingga ada tambahan dari uang siswa sebanyak Rp 16.660.000. “Tapi siswa tidak jadi pelesir ke Bali, namun ke Jawa Tengah dan Jogjakarta,” ujar Apit.
Seluruh siswa kelas 9 ditambah 11 guru akhirnya berangkat pelesir pada Senin malam (21/5) pukul 19.00 WIB dan akan kembali ke Malang pada Rabu (23/5) nanti. Inisitif para guru ini, menurut Apit, untuk mengobati kekecewaan siswa. Rombongan yang pelesir ke sejumlah objek wisata seperti ke Candi Borobudur, Malioboro, Kraton Jogjakarta dll itu mengggunakan empat bus.  Rencana awal dulu, siswa akan pelesir ke Bali pada Februari 2012 atau sebelum pelaksanaan unas. Tapi apa daya, upaya sekolah untuk mendapatkan uang yang dibawa Sugiana sejak September 2011 lewat berbagai pertemuan, termasuk mendatangani surat pernyataan akan mengembalikan uang siswa sebesar Rp 128.960.000 tidak juga mendapatkan hasil. Yang didapat hanyalah janji-janji Sugiana  akan mengembalikan uang itu, namun tidak pernah terlaksana hingga sekarang.
Terakhir Sugiana menandatangani surat pernyataan ketika diperiksa di Inspektorat Kabupaten Malang pada 14 Mei lalu, dimana ia akan mengembalikan uangnya pada Senin (21/5). Inspektorat sudah memeriksa Sugiana selama dua kali yaitu pada 14-15 Mei lalu. Ponsel Sugiana ketika dihubungi dalam nada aktif, tapi tidak diangkat.  Sementara Rendra Kresna, Bupati Malang kembali mengingatkan agar Sugiana, mantan Kepala SMPN 2 Lawang, Kabupaten Malang itu untuk mengembalikan uang siswa yang dibawanya. “Saya kira, sebaiknya Sugiana mengembalikan uang siswa daripada nanti masalahnya makin berat karena yang bersangkutan bisa dilaporkan oleh siswa atau walimurid,” tutur Rendra ketika bertemu di Pringgitan.  Ia menyayangkan jika uang itu  dipakai untuk kebutuhan konsumtif.
Terpisah, Didik Budi Mulyono, Inspektur Kabupaten Malang menyatakan, Sugiana masih belum bisa mengembalikan uang siswa sesuai yang dijanjikannya meski sudah menandatangani surat pernyataan akan mengembalikan uang siswa hingga Senin pukul 16.00 WIB. Sugiana sempat datang dengan pengacaranya ke Inspektorat Kabupaten Malang dan menemui tim pemeriksa yang intinya menyatakan masih mencari uang untuk mengembalikan uang tabungan siswa.  “Hasil pemeriksaan Sugiana sudah saya berikan ke bupati pada Senin sore,” tutur Didik. Sanksi diserahkan kepada Bupati Malang. Menurut  Didik, apa yang dilakukan Sugiana sudah merupakan pelanggaran berat.  “Kalau sudah tidak ada itikat baik seperti ini, saya serahkan kasusnya ke penyidik Polres Malang,” ungkapnya. 
Kata Didik,  Sugiana tidak hanya membawa uang tabungan siswa, tapi juga membawa uang BOS (Bantuan Operasional Sekolah) senilai Rp 30 juta pada 2011. “Harusnya, ketika pergantian kepala sekolah baru, dia menyerahkan uang itu. Tapi ternyata uang BOS-nya dibawa,” jelasnya. Atas kasusnya itu, Bupati Malang sudah mencopot Sugiana dari tugas tambahannya sebagai kepala sekolahnya. Sehingga ia kembali menjadi guru biasa di SMPN 2 Lawang. vie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pejabat Pemkab Malang Terlibat Pembunuhan Janda (1)

Ke Makam Troloyo Mojokerto

Meraup Untung Dari Si Mini